close menu

Masuk


Tutup x

Pemkab Manggarai Gerak Cepat Atasi Krisis, Debit Mata Air Terjun Hampir 80 Persen

Penulis: | Editor: Redaksi

RUTENG, FAJARNTT.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai mengambil langkah cepat merespons menurunnya debit 13 sumber mata air yang dikelola Perumda Tirta Komodo.

Data resmi menunjukkan sebagian besar sumber mengalami penyusutan debit hingga mendekati 80 persen, sebuah kondisi yang dinilai dapat memicu krisis air berkepanjangan jika tidak ditangani secara terukur.

Situasi tersebut dipaparkan Direktur Utama Perumda Tirta Komodo, Marsel Sudirman, SH dalam Rapat Koordinasi (Rakor) yang dipimpin Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai, Drs. Jahang Fansi Aldus, Kamis (16/01/2025) di Aula Ranaka, Kantor Bupati Manggarai. Rakor turut dihadiri Plt. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Yos Jelamu dan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Frumentius LTK.

Marsel menjelaskan bahwa penurunan debit terjadi hampir di seluruh sumber mata air.

Ia menegaskan bahwa persoalan air bersih tidak lepas dari kondisi hulu yang mulai mengalami kerusakan ekologis, perubahan iklim, peningkatan jumlah pelanggan, hingga keterbatasan infrastruktur jaringan pipa.

“Kalau di hulu mengalami masalah, pasti hilirnya ikut terdampak. Ini hukum pasti,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dari 15 mata air yang dikelola Perumda Tirta Komodo di wilayah Langke Rembong, dua di antaranya Wae Genggong dan Wae Palo, kini sudah tidak lagi mengeluarkan air.

Langkah Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Sebagai respon darurat, Perumda Tirta Komodo melakukan sejumlah upaya jangka pendek, yakni:

– Penjadwalan aliran air agar distribusi tetap merata,

– Penyediaan mobil tangki air terutama di wilayah rawan kekurangan air bersih.

Sementara untuk jangka panjang, strategi difokuskan pada:

– Penanaman pohon di daerah hulu,

– Perlindungan area tangkapan air,

– Pencarian dan pengujian sumber mata air baru.

“Semua air dari sumber baru wajib diuji sesuai standar. Tidak mungkin kami alirkan air yang tidak layak konsumsi,” ujar Marsel.

Data Penurunan Debit 13 Mata Air

Berikut kondisi terbaru debit 13 mata air yang diukur pada 2022 dan 2024:

– Wae Reget: 8 : 1,4 liter/detik (926 pelanggan)

– Wae Ajang: 8 : 4,61 liter/detik (1.149 pelanggan)

– Wae Watang: 2 : 0,81 liter/detik (820 pelanggan)

– Wae Lerong I: 8 : 3,34 liter/detik (1.435 pelanggan)

– Wae Sosor: 1 : 0,87 liter/detik (920 pelanggan)

– Wae Pong: 100 : 39,87 liter/detik (1.346 pelanggan)

– Wae Mese I: 10 : 6,1 liter/detik (1.327 pelanggan)

– Wae Mese II: 12 → 3,69 liter/detik (1.279 pelanggan)

– Wae Ces: 20 : 8,55 liter/detik (1.369 pelanggan)

– Wae Rowang: 30 : 13,49 liter/detik (1.450 pelanggan)

– Wae Cunca Bor: 9 : 0,65 liter/detik (1.684 pelanggan)

– Wae R’ii: 14 : 7,62 liter/detik (1.426 pelanggan)

– Wae Decer: 150 : 33 liter/detik (1.402 pelanggan)

Marsel menegaskan bahwa seluruh pengukuran dilakukan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) nasional oleh petugas bersertifikasi dan menggunakan metode yang berlaku di seluruh Indonesia.

Pemkab Manggarai Minta Informasi Disampaikan Terbuka

Sekda Manggarai, Jahang Fansi Aldus, selaku Ketua Dewan Pengawas Perumda Tirta Komodo, menegaskan pentingnya transparansi informasi kepada publik terkait kondisi penurunan debit ini.

“Informasi ini harus sampai ke masyarakat. Jika tidak disampaikan, tudingan kurang bekerja pasti kembali ke teman-teman Perumda. Kondisi ril wajib diketahui publik,” tekan Sekda.

Ia memastikan bahwa Pemkab Manggarai bersama Perumda Tirta Komodo tetap berkomitmen mencari terobosan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih di tengah ancaman krisis yang semakin nyata.

Rakor turut dihadiri pimpinan OPD terkait, camat, kepala bagian, serta jajaran manajerial Perumda Tirta Komodo.(*)

Konten

Komentar

You must be logged in to post a comment.

Kedai Momica