close menu

Masuk


Tutup x

Pendidikan Tanpa Jiwa, Teknologi Tanpa Cinta: Dr. Maximus Tamur Bicara Meta-Pedagogi untuk Guru di Era 5.0

Dr. Maximus Tamur, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Matematika sekaligus peneliti bidang software matematika dan pengelola Program PPG di Universitas Katolik (Unika) Santu Paulus Ruteng. (Dok.FajarNTT)
Dr. Maximus Tamur, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Matematika sekaligus peneliti bidang software matematika dan pengelola Program PPG di Universitas Katolik (Unika) Santu Paulus Ruteng. (Dok.FajarNTT)

Penulis: | Editor: Redaksi

RUTENG, FAJARNTT.COM – “Pendidikan tanpa jiwa dan teknologi tanpa cinta hanya akan melahirkan manusia yang kehilangan arah.”

Pesan tegas itu disampaikan Dr. Maximus Tamur, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Matematika sekaligus peneliti bidang software matematika dan pengelola Program PPG di Universitas Katolik (Unika) Santu Paulus Ruteng, dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Profesional Program PPG Guru Tertentu Periode II Tahun 2025, Sabtu (1/11/2025), di Aula Unika Santu Paulus Ruteng.

Dalam orasinya yang berjudul “Meta-Pedagogi di Era Meta-Digital: Refleksi atas Profesionalisme dan Kolaborasi Guru dalam Realitas Baru Pendidikan 5.0,” Dr. Maximus menegaskan bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi dan kecerdasan buatan, pendidikan modern kerap kehilangan ruh kemanusiaannya.

Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi jembatan untuk memanusiakan manusia, bukan menggantikan peran guru sebagai penuntun jiwa dan pembentuk karakter.

“Guru profesional di era 5.0 bukan guru yang takut digantikan teknologi, tetapi guru yang mampu memanusiakan teknologi. Kecerdasan buatan bukan ancaman, tetapi sahabat berpikir yang membantu kita menyalakan kembali semangat belajar,” ujar Dr. Maximus di hadapan 1.075 peserta yang dikukuhkan sebagai guru profesional.

Ia menegaskan bahwa meta-pedagogi bukan sekadar konsep tentang “cara mengajar,” melainkan refleksi tentang makna kemanusiaan di tengah ekosistem digital.

Meta-pedagogi, kata Maximus, adalah cara berpikir yang menggabungkan humanisme dan digitalisme, sebuah upaya melampaui sekat-sekat tradisional agar pendidikan tidak kehilangan jiwa.

“Teknologi boleh canggih, tetapi tanpa sentuhan cinta dari guru, ia hanyalah alat kosong. Pendidikan sejati lahir dari hati yang memandu nalar, bukan dari mesin yang memproduksi jawaban,” tegasnya.

Dr. Maximus juga menyoroti bahwa guru di era meta-digital harus menguasai tiga kecerdasan utama: epistemik, teknologis, dan moral.

Ia menjelaskan, kecerdasan epistemik membimbing guru memahami hakikat ilmu; kecerdasan teknologis membantu memilih dan menggunakan teknologi secara tepat; sedangkan kecerdasan moral memastikan setiap proses belajar tetap berpihak pada kemanusiaan.

“Tanpa kecerdasan moral, teknologi hanya melahirkan efisiensi tanpa makna. Tanpa kolaborasi, inovasi hanya menjadi kepingan ide tanpa kehidupan,” ujarnya dalam bagian reflektif orasinya.

Lebih jauh, Dr. Maximus menekankan pentingnya kolaborasi antarguru, dosen, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pembelajaran yang hidup.

Dalam konteks Program PPG, katanya, kolaborasi antara dosen pengampu, guru pamong, mahasiswa, dan sekolah mitra menjadi wajah nyata profesionalisme baru.

“Guru profesional bukan lagi pohon tunggal di padang, tetapi hutan pengetahuan yang saling menghidupi. Di tengah jejaring digital yang luas, kolaborasi menjadi napas baru pendidikan,” pungkasnya.

Rektor: Guru Adalah Penyalur Cinta dan Kebijaksanaan

Sementara itu, Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. Theol., yang akrab disapa Romo Manfred, dalam sambutannya menegaskan bahwa momentum pengukuhan ini bukan sekadar perayaan akademik, melainkan pengakuan atas panggilan dan dedikasi para pendidik profesional.

“Hari ini bukan sekadar perayaan akademik, tetapi pengakuan atas panggilan dan dedikasi Anda sebagai pendidik profesional. Dalam diri Anda, Gereja dan bangsa menaruh harapan untuk menghadirkan wajah pendidikan yang cerdas, berkarakter, dan humanis,” ujar Romo Manfred di hadapan para lulusan dan dosen pendamping PPG.

Ia menilai, tema pengukuhan tahun ini “Menjadi Guru Profesional yang Transformatif, Kolaboratif, dan Berkarakter di Era Digital 5.0” sangat tepat menggambarkan arah pendidikan masa kini.

“Kita hidup di tengah era di mana teknologi kecerdasan buatan mengubah hampir setiap aspek kehidupan. Namun, di tengah perubahan cepat itu, peran guru tidak pernah tergantikan. Mesin dapat menyimpan informasi, tetapi hanya manusia yang dapat menyalakan api kebijaksanaan dan cinta di hati peserta didik,” katanya.

Menurut Romo Manfred, guru profesional sejati adalah mereka yang terus mengasah kompetensi dengan tanggung jawab dan integritas, menjadi agen transformasi yang menyalakan harapan siswa, membangun kolaborasi lintas peran, dan meneguhkan karakter kemanusiaan.

“Sebagai universitas Katolik, kami percaya bahwa profesionalitas sejati selalu berakar pada spiritualitas pelayanan. Guru yang profesional, transformatif, dan berkarakter adalah mereka yang menjadikan profesinya sebagai panggilan kasih untuk membentuk manusia yang cerdas dalam berpikir, tulus dalam hati, dan kokoh dalam nilai,” tambahnya.

Romo Manfred juga mengingatkan para lulusan bahwa setiap langkah seorang guru adalah tindakan profetik bagi masa depan bangsa.

“Ingatlah, setiap kali Anda masuk kelas, Anda sedang menyentuh masa depan bangsa. Jadilah terang di tengah zaman digital ini terang yang membimbing dengan ilmu, menerangi dengan kasih, dan menuntun dengan karakter,” tutup Romo Manfred.

Guru, Jiwa di Tengah Gelombang Digital

Acara pengukuhan Guru Profesional Program PPG-GT Periode II Tahun 2025 di Unika Santu Paulus Ruteng ini menandai lahirnya lebih dari seribu guru baru yang siap berkiprah di dunia pendidikan.

Namun, sebagaimana ditekankan oleh Dr. Maximus Tamur, tantangan sesungguhnya baru dimulai: bagaimana menjaga agar pendidikan tetap berjiwa dan teknologi tetap penuh cinta.

Dalam dunia yang kian dikuasai algoritma, guru ditantang untuk tidak kehilangan hatinya. Karena pada akhirnya, sebagaimana dikatakan Dr. Maximus dalam orasinya, Teknologi mungkin bisa menggandakan suara, tetapi hanya guru yang mampu menumbuhkan makna di balik kata.” (*)

Penulis: Gordi Jamat

Konten

Komentar

You must be logged in to post a comment.

Terkini Lain

Konten
Kedai Momica