
Penulis: Tim | Editor: Redaksi
RUTENG,FAJARNTT.COM – Panggung sederhana di halaman Studio 1 Tulung, Jalan Bougenville Utara, kembali menjadi pusat perhatian pencinta musik lokal pada Jumat malam (28/11/2025).
Acara bertajuk Tur Bunga di Tanjung yang merupakan bagian dari perjalanan promosi single terbaru “Saudara Purba” milik grup Bunyi Waktu Luang asal Labuan Bajo, menghidupkan suasana Ruteng dengan energi kreatif yang kuat. Lebih dari sebuah konser kecil, kegiatan ini menjadi ruang bagi musisi muda Manggarai untuk unjuk karya dan memperkuat jejaring lintas daerah.
Musisi lokal dan regional tampil bergantian membawa warna musik masing-masing. Ronald Djeer, AM, Mc Vitroz, Laskar Band, Silent Noice, Ruteng Trio, hingga Sangkar Roots tampil dengan aransemen akustik yang hangat dan dekat, membuat suasana malam itu penuh keakraban. Penonton yang hadir, mulai dari musisi senior, komunitas kreatif, hingga warga sekitar terlihat menikmati setiap penampilan yang menonjolkan kekuatan karya asli.
Ruteng-Labuan Bajo: Jejaring Musik yang Saling Menguatkan
Salah satu fasilitator acara, Yon Patung, menyebut kegiatan ini sebagai bukti bahwa Ruteng dan Labuan Bajo memiliki hubungan erat dalam perkembangan musik Manggarai.
Menurutnya, ruang-ruang kecil seperti Studio 1 Tulung memainkan peran penting dalam menjaga konsistensi pergerakan musik lokal.
“Geliat musik di Cewonikit dan Pau itu bukan barang baru. Sejak dulu, dua wilayah ini jadi tempat banyak musisi belajar dan bertumbuh. Ada warisan komunitas yang terus diturunkan,” jelas Yon.
Ia menegaskan pentingnya karya orisinil bagi musisi muda.
“Tanpa lagu sendiri, kita kehilangan identitas. Band yang sudah mulai menulis karya mereka harus terus didukung. Dari karya itu, mereka bisa bicara lebih banyak tentang siapa mereka dan dari mana mereka datang,” ucapnya.
Yon juga menekankan nilai pertemuan seperti ini. “Fokus utama malam ini adalah membangun relasi. Kita mau memperkuat persaudaraan antara Ruteng dan Labuan Bajo, serta membuka peluang kolaborasi baru.”
Bunyi Waktu Luang: Musik sebagai Perjalanan Kultural
Usai tampil, grup Bunyi Waktu Luang menyampaikan apresiasi mereka terhadap sambutan para musisi Ruteng. Aden, salah satu personel, menyebut bahwa Ruteng memegang peran penting dalam sejarah perkembangan musik di Labuan Bajo.
“Kalau bicara sejarah musik di Labuan, banyak pengaruh datang dari Ruteng. Jadi tampil di sini bukan sekadar mampir tur. Ini semacam pulang ke salah satu akar perjalanan musik kami,” ungkapnya.
Menurut Aden, tour ini bukan hanya tentang memperkenalkan single baru, tetapi juga tentang membangun hubungan lintas daerah yang lebih kuat.
“Kami ingin membuka pintu kolaborasi. Banyak musisi muda di Ruteng yang punya karya bagus dan berpotensi besar. Tur ini mudah-mudahan bisa jadi awal dari jaringan kreatif yang lebih luas,” ungapnya.
Ia juga mendorong musisi Manggarai untuk mulai merilis karya di platform digital maupun album fisik.
“Kalau sudah bikin lagu, jangan disimpan. Rilis dan sebarkan. Dunia harus tahu musik Manggarai itu punya warna yang unik,” tukasnya.
Hingga saat ini, Bunyi Waktu Luang telah merilis lima lagu di Spotify, hasil kolaborasi kreatif Aden dan Redra.
Studio 1 Tulung: Ruang yang Menyalakan Keberanian
Acara ini difasilitasi oleh Igen Jaka, pemilik Studio 1 Tulung sekaligus manajer X-Pio Band dan sejumlah musisi muda Manggarai.
Ia menyebut studio rumahan seperti miliknya adalah ruang penting bagi banyak proses kreatif yang jarang terlihat publik.
“Banyak karya besar lahir dari ruang kecil seperti ini. Studio kecil, halaman rumah, kamar penuh instrumen, di situlah ide pertama sering muncul. Tugas kami adalah menyediakan ruang aman agar anak-anak muda bisa mencoba tanpa takut salah,” kata Igen.
Ia melihat bahwa keberanian tampil adalah modal penting bagi seniman muda.
“Panggung seperti malam ini sangat berarti. Mereka belajar berdiri di depan publik, belajar menyampaikan karya sendiri. Dari ruang kecil, nanti mereka bisa naik ke panggung yang lebih besar,” ungkapnya.
Igen berharap kegiatan serupa dapat digelar lebih sering untuk memperkuat ekosistem musik Manggarai.
“Kita harus saling mendukung. Kalau ruang seperti ini hidup, musik Manggarai juga akan hidup,” tutupnya.
Acara Tur Bunga di Tanjung di Ruteng membuktikan bahwa ruang-ruang kreatif berbasis komunitas tetap menjadi tulang punggung perkembangan musik lokal.
Kolaborasi, karya orisinil, dan jejaring lintas daerah menjadi kunci yang mendorong generasi muda untuk terus tampil dan menunjukkan jati diri mereka.
Dari halaman Studio 1 Tulung yang sederhana, gema musik malam itu menyatakan satu hal: pergerakan musik Manggarai tidak pernah berhenti. Ia terus tumbuh, dipelihara oleh musisi-musisi muda yang berani berkarya dan komunitas yang tak pernah lelah memberi ruang.(*)






