
Penulis: Tim | Editor: Redaksi
RUTENG, FAJARNTT.COM – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Manggarai resmi membuka kegiatan Diklat Terpadu Dasar (DTD) Angkatan III yang dirangkaikan dengan khitanan massal, bertempat di Aula Masjid Baiturrahman, Jumat, 19 Desember 2025.
Kegiatan ini mengusung tema “GP Ansor Manggarai Satu Barisan Membangun Negeri”, sebuah penegasan arah gerakan kaderisasi yang tidak berhenti pada penguatan ideologi, tetapi juga berakar kuat pada kerja-kerja pengabdian sosial di tengah masyarakat.
DTD sebagai agenda kaderisasi tahunan Ansor kembali menjadi ruang penting untuk merajut nilai, membangun karakter, serta mempertegas identitas Ansor sebagai organisasi kepemudaan yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama dan konsisten menjaga komitmen kebangsaan, keislaman moderat, serta kemanusiaan universal. Di Manggarai, DTD Angkatan III ini tidak hanya dimaknai sebagai proses pengkaderan formal, tetapi juga sebagai upaya menjawab tantangan sosial yang kian kompleks di tingkat akar rumput.
Pantauan media ini, kegiatan dimulai sekitar pukul 14.30 WITA dengan seremoni pembukaan yang berlangsung khidmat namun sarat semangat kebersamaan. Hadir dalam kegiatan tersebut berbagai unsur pemerintah daerah, tokoh agama, aparat keamanan, serta organisasi kemasyarakatan. Tampak perwakilan Kesbangpol Kabupaten Manggarai, Ketua MUI Manggarai Abdurrahman Marolla, Ketua PC NU Manggarai Abdullah, Ketua Bawaslu Manggarai Fortunatus Hamsah Manah, perwakilan Kementerian Agama, Dinas PPO Manggarai, Kepala KUA Manggarai, Danki Brimob Manggarai, instruktur dari Pimpinan Wilayah Ansor NTT, hingga perwakilan majelis taklim se-Kabupaten Manggarai.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Kesbangpol Kabupaten Manggarai, Agust E. Deno, yang hadir mewakili Kepala Kesbangpol. Dalam sambutannya, Agust menekankan bahwa Ansor memiliki posisi strategis dalam sejarah dan perjalanan bangsa, terutama dalam menjaga persatuan, ketertiban sosial, serta menumbuhkan kesadaran kebangsaan di kalangan generasi muda.
Menurutnya, Ansor tidak lahir secara kebetulan, melainkan dibentuk dengan tujuan dan tanggung jawab yang jelas, yakni berjuang untuk nilai-nilai kebaikan, agama, dan kemanusiaan.
Ia mengingatkan para peserta DTD agar mengikuti seluruh rangkaian diklat dengan sungguh-sungguh dan mampu menyaring nilai-nilai positif yang kelak dapat diaplikasikan di tengah masyarakat.
“Yang tidak baik jangan dibawa pulang. Tetapi nilai perjuangan, pengabdian, dan semangat kebangsaan harus benar-benar dihidupi,” pesannya.
Ia juga menyoroti tantangan sosial di Manggarai, seperti maraknya peredaran minuman keras dan praktik perjudian, yang menurutnya membutuhkan keterlibatan aktif pemuda sebagai agen perubahan.
Sementara itu, Ketua Panitia DTD Angkatan III, Ustad Joni Setiawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari niat baik bersama dan dukungan banyak pihak, mulai dari jajaran pengurus, orang tua peserta, hingga para donatur.
Ia menegaskan bahwa bergabung dalam Ansor bukan semata-mata soal status organisatoris, melainkan amanah besar untuk melayani dan mengabdi.
“Menjadi pengurus Ansor berarti siap memikul tanggung jawab moral. Bukan hanya membawa nama organisasi, tetapi juga membawa nilai dan teladan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Ansor Manggarai berkomitmen merangkul pemuda-pemuda yang selama ini terjebak dalam perilaku negatif, seperti miras dan perjudian, untuk dibina dan diarahkan menuju kehidupan yang lebih bermakna.
“Ansor ingin hadir mencerdaskan pemuda-pemuda liar di luar sana. Kami ingin mereka tumbuh dengan niat baik dan semangat pengabdian,” katanya. Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari peserta, mencerminkan optimisme dan antusiasme kader muda Ansor Manggarai untuk mengambil peran lebih besar di ruang sosial.
Dari unsur Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi NTT, Pariyono, yang hadir sebagai instruktur, menegaskan bahwa Ansor bukan sekadar nama organisasi, melainkan amanah besar sebagai penolong.
Ia menekankan bahwa nilai utama Ansor adalah keberpihakan pada kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang agama, suku, ras, maupun golongan, selama berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Berbuat baiklah kepada siapa pun. Kita tidak pernah tahu siapa yang kelak menjadi penolong kita di masa sulit,” ujarnya.
Pariyono juga mengapresiasi langkah Ansor Manggarai yang memadukan DTD dengan kegiatan sosial seperti khitanan massal dan pemeriksaan kesehatan gratis.
Menurutnya, inisiatif tersebut menjadi bukti bahwa kaderisasi Ansor tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Ketua PC GP Ansor Manggarai, Isa Hikmawan, saat ditemui di sela kegiatan, menegaskan bahwa DTD Angkatan III merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Ansor dan masyarakat Manggarai.
Ia menilai bahwa kader Ansor harus dibentuk tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi juga peka secara sosial.
“DTD ini adalah fondasi pembentukan karakter kader. Kami ingin kader Ansor Manggarai hadir sebagai solusi, bukan sekadar simbol organisasi. Karena itu, kaderisasi kami padukan dengan aksi nyata kemanusiaan,” tegasnya.
Menurut Isa, penggabungan DTD dengan khitanan massal dan pemeriksaan kesehatan gratis merupakan bentuk pendidikan sosial agar kader terbiasa melayani sejak dini.
DTD Angkatan III PC GP Ansor Manggarai dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Desember 2025. Selain menerima materi kaderisasi, ideologi, dan kebangsaan, para peserta juga dibekali nilai-nilai kepemimpinan, disiplin, serta kepekaan sosial. Pada puncak kegiatan, Ansor Manggarai akan menggelar pemeriksaan kesehatan gratis dan khitanan massal sebagai wujud konkret pengabdian kepada masyarakat.
Melalui DTD Angkatan III ini, GP Ansor Manggarai kembali menegaskan komitmennya untuk merajut ideologi dan pengabdian di akar rumput, melahirkan kader-kader muda yang tidak hanya militan dalam barisan, tetapi juga humanis, inklusif, dan siap berdiri di garda terdepan pelayanan sosial dan kemanusiaan di Kabupaten Manggarai.(*)
Penulis: Gordi Jamat











