
Penulis: Nurjana | Editor: Redaksi
LABUAN BAJO, FAJARNTT.COM – Upaya pencarian korban tenggelamnya kapal pinisi KM Putri Sakinah di perairan Selat Padar terus diintensifkan. Kepolisian mengerahkan teknologi bawah laut serta armada patroli laut guna memperluas jangkauan pencarian, seiring operasi SAR yang telah memasuki hari ketiga sejak insiden nahas tersebut terjadi di wilayah perairan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Sebanyak 35 personel kepolisian diterjunkan secara khusus dalam operasi ini. Mereka berasal dari berbagai satuan, yakni Satpolairud Polres Manggarai Barat, Ditpolairud Polda NTT, serta Korpolairud Baharkam Polri. Seluruh personel tersebut bergabung dan bersinergi dengan Tim SAR gabungan yang sejak awal menangani pencarian korban.
Hal ini disampaikan Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang dalam press release yang diterima Fajar NTT pada Senin malam (29/12).
Dalam keterangannya, AKBP Christian menegaskan bahwa keterlibatan Polri tidak hanya sebatas pengerahan personel, tetapi juga optimalisasi sarana dan prasarana pencarian, baik di permukaan laut maupun di bawah air.
Menurutnya, seluruh kekuatan yang dimiliki dikerahkan untuk memastikan pencarian berjalan maksimal dan korban yang masih hilang dapat segera ditemukan.
“Personel Polri masih terus membantu Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban KM Putri Sakinah yang tenggelam di Selat Padar. Kami bekerja secara terpadu dan berkoordinasi ketat dengan seluruh unsur yang terlibat,” ujar AKBP Christian.
Ia berkata, dalam operasi ini, kepolisian mengoperasikan dua unit Kapal Patroli Cepat (KPC) XXII 2007 serta dua unit Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Ditpolairud Polda NTT.
“Armada laut tersebut difungsikan untuk melakukan penyisiran visual di permukaan perairan, menyusuri area-area yang diduga menjadi lintasan hanyut korban akibat arus laut yang cukup kuat,” jelasnya.
Tak hanya itu, untuk mendukung pencarian di bawah laut, Ditpolairud Polda NTT juga mengerahkan berbagai peralatan khusus berteknologi tinggi. Sejumlah perangkat seperti drone bawah laut, sistem sonar, seabob, scooter bonex, hingga alat selam pendukung lainnya digunakan untuk mendeteksi objek di dasar laut. Teknologi sonar yang dioperasikan bahkan mampu mendeteksi benda berbahan logam hingga radius 200 meter, sehingga diharapkan dapat membantu melacak bangkai kapal maupun kemungkinan keberadaan korban.
Kepolisian juga melaporkan bahwa Rudi Darmoko turun langsung ke lokasi kejadian di Selat Padar. Kehadiran Kapolda NTT di lapangan menjadi bentuk keseriusan dan perhatian penuh jajaran Polda NTT terhadap musibah tersebut, sekaligus memastikan seluruh proses pencarian dan evakuasi berjalan sesuai prosedur serta mengutamakan keselamatan personel.
Hingga hari ketiga operasi SAR, tujuh orang korban berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Sementara itu, tiga korban lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dalam pencarian intensif. Tim SAR gabungan pun memperluas area penyisiran, khususnya ke arah timur dari lokasi awal kejadian, menyesuaikan dengan pola arus laut dan arah angin yang berkembang selama beberapa hari terakhir.
Tantangan cuaca menjadi salah satu kendala utama dalam proses pencarian. Berdasarkan data dan prakiraan dari BMKG, tinggi gelombang di sekitar lokasi kejadian mencapai sekitar satu meter, disertai hembusan angin kencang dan arus laut yang cukup kuat. Meski demikian, upaya pencarian tetap dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan seluruh personel yang terlibat.
“Atas nama pribadi dan Polres Manggarai Barat, kami turut prihatin dan menyampaikan duka cita atas musibah ini. Semoga seluruh korban yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan,” ucap AKBP Christian Kadang.
Operasi SAR melibatkan berbagai unsur lintas instansi, di antaranya Basarnas, Lanal Labuan Bajo, KSOP Labuan Bajo, BPBD Manggarai Barat, pelaku wisata bahari, serta penyelam profesional dari Perhimpunan Penyelam Profesional Komodo. Seluruh unsur tersebut berada di bawah koordinasi terpadu untuk memastikan pencarian berlangsung efektif dan terarah.
Diketahui, KM Putri Sakinah berukuran 27 Gross Tonnage (GT) mengangkut 11 orang penumpang dan awak kapal, yang terdiri dari enam wisatawan asing asal Spanyol, satu pemandu wisata, serta empat anak buah kapal termasuk kapten. Kapal tersebut dilaporkan tenggelam saat berlayar dari Pulau Kambing menuju Pulau Komodo, tepatnya di perairan Selat Padar. Cuaca buruk dan gelombang tinggi diduga kuat menjadi penyebab utama kecelakaan laut tersebut.
Peristiwa tenggelamnya KM Putri Sakinah terjadi di titik koordinat 08°36’35.26″S-119°36’42.84″E, atau sekitar 23 mil laut ke arah barat dari Pelabuhan Marina Waterfront Labuan Bajo. Hingga kini, proses pencarian masih terus berlangsung dengan harapan seluruh korban dapat segera ditemukan dan dievakuasi.(*)











