
Penulis: Yulianus Onca | Editor: Redaksi
JAKARTA, FAJARNTT.COM – Para dewan juri Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 menerima cenderamata berupa tenunan bermotif khas Songke Manggarai dalam rangkaian kegiatan penilaian Anugerah Kebudayaan PWI yang berlangsung di Jakarta.
Penyerahan kain tenun Songke Manggarai ini merupakan bentuk apresiasi Pemerintah Kabupaten Manggarai sekaligus upaya strategis memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada tokoh-tokoh nasional yang terlibat langsung dalam proses penilaian Anugerah Kebudayaan PWI 2026. Songke Manggarai dikenal sebagai salah satu warisan budaya unggulan yang sarat nilai filosofis dan telah menjadi identitas masyarakat Manggarai secara turun-temurun.
Dalam kesempatan tersebut, Nungki Kusumastuti menerima kain Songke bernuansa hijau, warna yang diketahui merupakan favoritnya. Sementara Sujiwo Tejo, budayawan nasional, memilih kain Songke berwarna hitam yang mencerminkan karakter dan selera pribadinya.
Adapun Agus Dermawan T., kurator seni dan budayawan, menerima tenunan Songke berwarna merah marun yang melambangkan semangat dan kekuatan. Sedangkan Yusuf Susilo Hartono, selaku Ketua Panitia Anugerah Kebudayaan PWI, menerima Songke berwarna biru yang melambangkan keteduhan, kepercayaan, dan kebijaksanaan.
Khusus kain Songke yang diterima Dr. Nungki Kusumastuti, nuansa hijau yang melekat pada motif tenunan tersebut semakin menambah kesan mendalam. Warna itu bukan hanya sesuai dengan selera pribadinya, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional tersendiri bagi penerima.
Dr. Nungki menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian Pemerintah Kabupaten Manggarai, khususnya melalui Ketua Dekranasda Manggarai, dalam upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya lokal di tingkat nasional.
Iamengaku terkesan dengan keindahan motif Songke Manggarai yang sarat makna filosofis serta mencerminkan jati diri masyarakat Manggarai.
“Saya merasa senang dan bangga menerima kain Songke Manggarai ini, apalagi dengan warna hijau yang sangat saya sukai. Ini juga pertama kalinya saya menerima tenunan daerah dengan nuansa hijau. Seolah-olah Ibu Ketua Dekranasda Manggarai mengetahui warna kesukaan saya. Kain ini bukan sekadar karya seni, tetapi juga representasi nilai budaya dan sejarah masyarakatnya,” ujar Dr. Nungki.
Menurutnya, pelestarian tenun tradisional seperti Songke merupakan bagian penting dalam menjaga identitas budaya bangsa di tengah derasnya arus modernisasi.
Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Manggarai yang terus membina perajin lokal melalui program penguatan ekonomi kreatif dan peran aktif Dekranasda.
Penyerahan cenderamata tenunan Songke Manggarai ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam melestarikan dan mempromosikan kebudayaan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Robertus Bellarminus Nagut atau akrab disapa Armin Bell, menyampaikan bahwa kehadiran Bupati Manggarai dalam rangkaian kegiatan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat merupakan sebuah perjalanan budaya yang sangat mengesankan.
Ia menambahkan, kehadiran tersebut semakin bermakna karena Bupati Manggarai juga mendapat undangan khusus sebagai narasumber dalam salah satu podcast di Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Bupati Manggarai memaparkan secara mendalam mengenai kerajinan tenunan Songke Manggarai sebagai kebanggaan masyarakat Manggarai.
“Penjelasan tersebut tidak hanya menyoroti keindahan motif dan nilai filosofisnya, tetapi juga menegaskan peran tenun Songke sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif masyarakat lokal,” pungkas Armin Bell.(*)











