
Penulis: Bobby Ciputra | Editor: Bobby Ciputra
Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.
Retorika diplomasi untuk strategi geopolitik internasional yang sering disampaikan Prabowo Subianto. Kini, di Davos, Swiss, 22 Januari 2026, filosofi itu mendapat ujiannya ketika ia menandatangani piagam Board of Peace (BoP) bersama Donald Trump.
Perdamaian Dunia digenggaman Pria Tangguh.
Penandatanganan Piagam Board of Peace (BoP) bukanlah seremoni biasa. Kehadiran Prabowo (Presiden Republik Indonesia) bersama Donald Trump (Presiden Amerika Serikat) dan Viktor Orban (Perdana Menteri Hongaria) mengirimkan pesan yang jauh melampaui diplomasi simbolik.
Board of Peace (BoP) adalah platform kekuasaan alternatif, dibangun di luar tatanan internasional lama. Trump terlihat tidak menyukai institusi. Ia menyukai hubungan personal. Ia menghargai loyalitas simbolik. Dan Prabowo memahami logika ini.
Trump, yang dikenal anti-institusi multilateral tradisional, justru membangun institusi paralel dengan dirinya sebagai ketua seumur hidup dengan hak veto absolut, sebagaimana rincian dalam draf piagam 11 halaman.
Keputusan Indonesia untuk bergabung tidak dapat dibaca sebagai ketundukan. Ia lebih tepat dibaca sebagai kesadaran taktik geopolitik. Yang berangkat dari realitas bahwa multilateralisme sedang melemah. Dunia bergerak ke arah multipolar yang keras dan transaksional.
Sebagian besar sekutu Barat menolak bergabung. Inggris, Prancis, Jerman, dan Norwegia absen dari upacara penandatanganan. Mereka khawatir Board of Peace (BoP) akan menggerogoti legitimasi PBB. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan mengkritik keras struktur piagam yang melampaui kerangka Gaza dan menimbulkan pertanyaan serius tentang prinsip dan struktur PBB. Trump merespons dengan ancaman tarif 200% untuk anggur dan sampanye Prancis. Pola ini terlihat jelas loyalitas dihargai, kritik dihukum.











