close menu

Masuk


Tutup x

Prabowo di Antara Tokoh-Tokoh Tangguh

Board of Peace
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto Menjadi Salah Satu Pemimpin Negara yang Menandatangani Board of Peace (BoP) Charter di Davos, Swiss pada Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: BPMI Setpres)

Penulis: | Editor: Bobby Ciputra

Dari Bebas Aktif menuju Bebas Manuver.

Politik Bebas Aktif lahir di era bipolar Perang Dingin. Esensinya adalah Indonesia menjaga kedaulatannya dengan tidak terikat secara permanen pada blok mana pun. Di dunia multipolar hari ini, di mana multilateralisme tradisional melemah dan kekuatan tersebar, Prabowo tampaknya membaca peta dengan cara berbeda. Musuh tidak lagi hanya dua blok raksasa, tapi ketidakpastian dan tekanan dari berbagai arah.

Prabowo tidak meninggalkan Politik Bebas Aktif, tapi menterjemahkan ulang untuk era post-multilateral. Politik Bebas Manuver berarti bergerak di antara semua kekuatan. Bergabung tanpa mengikat. Mendekat tanpa menunduk. dan Hadir tanpa terlarut.

Bergabung dengan Board of Peace (BoP) adalah manuver Prabowo dalam membaca peta geopolitik. Dalam kerangka ini, Board of Peace (BoP) bukan tujuan. Ia adalah alat. Indonesia ingin tercatat sebagai mitra, bukan objek tekanan dikemudian hari. Ini semacam asuransi politik awal. Prabowo mengirim sinyal ke Barat bahwa Indonesia bisa diajak bicara dengan “bahasa mereka”.

Indonesia tidak lagi sekadar tidak memihak, tetapi aktif berpindah dari satu titik kekuatan ke titik lainnya demi kepentingan nasional. Bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (BoP) adalah bukti nyata dari kelincahan tersebut.

Kepentingan Nasional di Balik Keputusan Strategis.

Ada kalkulasi keamanan nasional yang strategis di balik keputusan Prabowo. Melalui Board of Peace (BoP), Indonesia kemungkinan mengincar stabilitas di Laut Natuna Utara dengan cara mengunci komitmen AS melalui jalur diplomasi personal yang disukai Trump. Dalam spekulasi geopolitik, tujuan AS adalah mendorong Indonesia secara implisit menolak klaim China di Laut China Selatan; sebuah tujuan yang sejalan dengan kepentingan Indonesia tanpa harus menyatakannya secara eksplisit.

Prabowo juga menghitung bahwa dunia telah berubah menjadi multipolar dengan cepat. Arsitektur keamanan global pasca-1945 sedang ditantang dari berbagai arah. Dalam situasi ini, negara menengah seperti Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan satu institusi atau satu hubungan bilateral. Mereka harus membangun jaring pengaman di berbagai platform sekaligus. Board of Peace (BoP) adalah salah satu jaring itu; bukan satu-satunya, tapi cukup penting untuk tidak diabaikan.

Keputusan ini juga memperkuat citra Prabowo sebagai tokoh tangguh global yang rasional. Prabowo memposisikan diri sebagai realis geopolitik yang pragmatis. Ia berteman dengan semua; Barat, Timur, Utara, Selatan selama menguntungkan kepentingan nasional Indonesia. Dalam pidatonya di Davos, ia menegaskan Indonesia memilih perdamaian daripada kekacauan. Kami ingin menjadi teman bagi semua, musuh bagi tidak ada satu pun.

Konten

Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI). Aktif menulis di berbagai media nasional maupun internasional mengenai isu sosial, politik, dan ekonomi. Tinggal di Jakarta.

Komentar

You must be logged in to post a comment.

Terkini Lain

Konten
Kedai Momica