
Penulis: Yulianus Onca | Editor: Redaksi
RUTENG, FAJARNTT.COM – Ajang kompetisi sepak bola perempuan tingkat SMP untuk pertama kalinya digelar di Kabupaten Manggarai dan menjadi tonggak penting dalam upaya penguatan kesetaraan gender serta perlindungan anak perempuan.
Untuk diketahui, kegiatan bertajuk Girls Football 3.0 ini berlangsung di Lapangan Sepak Bola SMAK St. Aloisius Ruteng selama dua hari, Sabtu-Minggu, 31 Januari hingga 1 Februari 2026.
Kompetisi ini diikuti enam sekolah menengah pertama binaan Yayasan Plan Indonesia yang bekerja sama dengan Yayasan Rumah Solusi Beta Indonesia (RSBI) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPO) Kabupaten Manggarai. Enam sekolah tersebut yakni SMP Negeri 1 Ruteng, SMP Negeri 2 Ruteng, SMP Negeri 6 Langke Rembong, SMP Karya, SMPK Immaculata, dan SMPK Fransiskus Ruteng.
Mengusung semboyan “Berani Bermain, Siap Memimpin, Sampai Semua Setara,” Girls Football 3.0 tidak hanya menjadi ruang adu keterampilan olahraga, tetapi juga wadah edukatif untuk menyampaikan pesan-pesan penting tentang perlindungan anak perempuan, pencegahan kekerasan, serta penguatan kepemimpinan sejak usia dini. Total peserta yang terlibat mencapai 145 anak perempuan, didampingi 15 pelatih bersertifikat yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan khusus.
Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit, yang hadir sekaligus membuka kegiatan secara resmi, menegaskan bahwa kompetisi sepak bola perempuan ini memiliki makna jauh lebih dalam dibanding sekadar pertandingan.
“Ini bukan hanya laga sepak bola. Kompetisi seperti ini adalah wahana untuk menyampaikan isu-isu penting terkait anak perempuan, mulai dari kekerasan seksual, perundungan, kepemimpinan anak perempuan, hingga kesehatan mental,” tegas Bupati Nabit.
Menurutnya, pendekatan melalui olahraga jauh lebih efektif dibandingkan metode sosialisasi konvensional.
Ia menilai, ceramah atau penyuluhan formal sering kali tidak membekas bagi anak-anak, sementara kegiatan yang menyenangkan justru mampu menanamkan nilai secara alami.
“Kalau ceramah terus, sosialisasi terus, sering kali masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Tapi kalau disampaikan di sela-sela kegiatan yang menyenangkan seperti ini, pesannya bisa sampai dan diingat,” ujarnya.
Bupati Nabit menjelaskan, di antara pertandingan, panitia juga menyisipkan kampanye kecil, kuis interaktif, dan diskusi ringan yang mengangkat berbagai persoalan nyata yang dihadapi anak perempuan.
“Pendekatan sederhana namun komunikatif ini dinilai efektif dalam membangun kesadaran, keberanian berbicara, serta rasa percaya diri para peserta,” jelasnya.
Meski saat ini baru melibatkan enam tim, Bupati Nabit optimistis dampak kegiatan ini akan meluas. Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh para peserta dapat ditularkan kepada teman sebaya di sekolah maupun lingkungan sekitar.
“Hari ini terbatas pada enam tim, tetapi isinya akan menyebar. Anak-anak ini akan membawa cerita dan pengalaman mereka ke teman-teman yang lain,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Manggarai juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Plan Indonesia dan RSBI yang selama ini konsisten mendampingi anak-anak di Manggarai, baik melalui program pendidikan, perlindungan anak, maupun pengembangan fasilitas olahraga.
“Dalam keterbatasan kita, mari kita berikan dukungan kepada semua pihak yang datang untuk berbuat baik dan membangun Manggarai, membangun manusia Manggarai, terutama anak-anak perempuan kita,” mbaunya.
Sementara itu, Koordinator Program Plan Manggarai, Dendi Manu, menegaskan bahwa sepak bola perempuan dipilih sebagai medium penguatan kepemimpinan karena olahraga ini mampu membentuk karakter, disiplin, kerja sama, serta keberanian tampil di ruang publik.
“Penguatan kepemimpinan anak perempuan sangat baik dimulai sejak SMP. Lewat sepak bola, mereka belajar percaya diri, berani mengambil keputusan, dan bekerja dalam tim,” jelasnya.
Selain mengembangkan sepak bola perempuan, Yayasan Plan Indonesia juga telah melakukan renovasi sejumlah sekolah serta perbaikan beberapa lapangan sepak bola yang nantinya dimanfaatkan sebagai ruang bermain aman dan aktivitas positif bagi anak-anak, khususnya anak perempuan.
Hal senada disampaikan Project Manager RSBI, Renya, yang menyebut sepak bola sebagai media efektif untuk membangun rasa percaya diri dan mematahkan stigma gender.
“Perempuan juga bisa bermain sepak bola, bukan hanya laki-laki. Kami berharap anak-anak ini ke depan bisa berkompetisi hingga tingkat provinsi bahkan nasional,” katanya.
Menurut Renya, kompetisi ini sekaligus menjadi sarana advokasi kepada pemerintah, masyarakat, dan orang tua tentang pentingnya kesetaraan gender serta pencegahan segala bentuk diskriminasi terhadap anak perempuan.
Antusiasme masyarakat pun terlihat tinggi. Ratusan penonton memadati lapangan pertandingan, memberikan dukungan langsung kepada para pemain muda yang tampil penuh semangat dan sportivitas.
Ke depan, Girls Football diharapkan menjadi ruang berkelanjutan bagi pengembangan bakat sepak bola perempuan di Manggarai, sekaligus memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap anak perempuan melalui pendekatan olahraga, pendidikan karakter, dan kepemimpinan yang inklusif.(*)











