
Penulis: Yulianus Onca | Editor: Redaksi
RUTENG, FAJARNTT.COM – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9 Komunitas Manggarai Motor Classic (MMC) tahun ini berlangsung dalam suasana sederhana namun penuh makna. Bertempat di markas komunitas di Kompleks Konggang, Ruteng, Kabupaten Manggarai, Kamis (9/2/2026), MMC memilih menggelar konser mini sebagai simbol kebersamaan dan refleksi perjalanan sembilan tahun komunitas tersebut.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang diwarnai pameran motor klasik, konser musik berskala besar, hingga kegiatan bakti sosial, perayaan kali ini dirancang lebih sederhana. Namun, bagi para anggota, esensi kebersamaan justru terasa lebih kuat.
Ketua MMC, Egidius Septian Hagul yang akrab disapa Egos, menegaskan bahwa kemeriahan bukanlah ukuran utama dalam memperingati hari jadi komunitas.
“Walaupun hanya konser mini, maknanya tetap besar bagi kami. Ini bukan soal kemewahan acara, tetapi tentang menjaga kebersamaan dan solidaritas di usia ke-9 MMC,” ujar Egos kepada Fajar NTT.
Menurut Egos, sembilan tahun bukanlah perjalanan singkat.
“Komunitas MMC telah melalui berbagai dinamika, mulai dari pertumbuhan jumlah anggota, penguatan struktur organisasi, hingga memperluas jaringan lintas kabupaten di Flores,” tegasnya.
Ia menyebut, MMC kini tidak sekadar menjadi wadah pecinta motor klasik, melainkan ruang silaturahmi lintas generasi dan profesi.
“MMC hari ini bukan hanya komunitas hobi. Kami sudah menjadi keluarga besar yang saling mendukung, saling menguatkan, dan tetap solid dalam berbagai situasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Egos menambahkan, MMC juga menyiapkan agenda besar berupa rolling thunder atau konvoi lintas daerah, sebagai bagian dari rangkaian HUT.
“Sebanyak 105 anggota dijadwalkan mengikuti touring lintas Flores dalam beberapa hari ke depan,” jelasnya.
Egos jug menjelaskan, rombongan MMC akan berkunjung ke komunitas Ngada Motor Classic (NMC) dan melanjutkan perjalanan lintas kabupaten sebagai simbol persaudaraan antar-komunitas motor klasik di Flores.
“Kami sudah siapkan 105 anggota untuk rolling thunder. Ini bukan sekadar touring, tetapi juga mempererat persaudaraan lintas kabupaten. Kami akan berkunjung ke Ngada Motor Classic dan melanjutkan perjalanan lintas Flores,” ucap Egos.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya soal perjalanan, tetapi juga membawa pesan penting tentang etika berkendara dan keselamatan di jalan raya.
“Kami selalu tekankan kepada anggota bahwa touring harus tetap santun, tertib, dan mengutamakan keselamatan. Kami ingin menunjukkan bahwa komunitas motor klasik bisa menjadi contoh positif di jalan,” tambahnya.
Di momentum yang sama, Wakil Ketua MMC, Loys Nahas, mengungkapkan bahwa HUT ke-9 juga menjadi titik awal inovasi baru bagi komunitas, yakni peluncuran program Bengkel Online.
Inisiatif ini, kata Loys, digagas sebagai respons terhadap perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan layanan otomotif yang cepat serta mudah diakses.
“Kegiatan ke depan, seluruh anggota akan fokus pada launching Bengkel Online. Kami mau bangun sistem pelayanannya dengan lebih profesional dan terstruktur,” ungkap Loys.
Menurut Loys, meningkatnya aktivitas masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor menuntut layanan servis yang lebih modern dan transparan.
MMC, jelas dia, ingin mengambil peran dalam menjawab kebutuhan tersebut.
“Bengkel Online ini penting, karena aktivitas dengan alat transportasi motor semakin meningkat. Kami ingin hadir memberikan solusi pelayanan yang lebih modern dan memudahkan masyarakat,” tuturnya.
Di usia ke-9, MMC menunjukkan bahwa komunitas otomotif tidak hanya tentang kecintaan pada motor klasik. Lebih dari itu, MMC membuktikan diri sebagai wadah persaudaraan, solidaritas sosial, dan ruang inovasi. Konser mini yang digelar sederhana justru menjadi refleksi bahwa kekuatan komunitas tidak terletak pada gemerlap acara, melainkan pada soliditas dan komitmen bersama.
Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga dan langkah inovatif yang mulai dirintis, MMC menatap masa depan dengan optimisme. Dari jalanan Flores hingga ranah digital melalui Bengkel Online, komunitas ini terus bergerak untuk menjaga tradisi klasik, sekaligus beradaptasi dengan tuntutan zaman.(*)











