
Penulis: Nal Jehaut | Editor: Redaksi
BORONG, FAJARNTT.COM – Proyek revitalisasi fasilitas pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 6 Poco Ranaka yang bersumber dari Dana APBN Tahun Anggaran 2025 akhirnya rampung seratus persen pada akhir Desember 2025.
Keberhasilan penyelesaian pembangunan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Kepala SMPN 6 Poco Ranaka, Ferdinandus Jemarus, yang menilai kerja sama para pekerja menjadi kunci utama percepatan proyek.
Berdasarkan hasil monitoring fasilitator pada 13 Agustus 2025, progres pembangunan saat itu baru mencapai sekitar 30 persen. Namun berkat koordinasi yang baik antara tenaga kerja, fasilitator, serta pihak sekolah, pembangunan mampu dikebut hingga selesai tepat waktu.
Pantauan Fajar NTR di lokasi sekolah pada Rabu, 25 Februari 2026 menunjukkan hasil pembangunan yang dinilai rapi dan berkualitas. Mulai dari struktur tiang bangunan, pemasangan dinding, pekerjaan keramik hingga pengecoran batako terlihat dikerjakan secara detail dengan dukungan peralatan kerja yang memadai.
Kepala SMPN 6 Poco Ranaka, Ferdinandus Jemarus, menyampaikan penghargaan kepada seluruh pekerja yang telah menunjukkan komitmen selama proses pembangunan berlangsung.
“Saya secara pribadi menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pekerja. Walaupun selama ini mungkin ada ucapan saya yang membuat mereka tersinggung, tetapi itu semata-mata sebagai motivasi agar mereka terus berkembang dalam pengalaman maupun ilmu pengetahuan yang dimiliki,” ungkap Ferdinandus Jemarus melalui pesan WhatsApp kepada Fajar NTT, Rabu (25/02/2026).
Ia menjelaskan, SMPN 6 Poco Ranaka menerima bantuan revitalisasi dengan total pagu anggaran sebesar Rp4.506.000.000 yang mencakup berbagai item pembangunan strategis guna menunjang aktivitas belajar mengajar.
“Di sekolah kita ada beberapa item pekerjaan yakni pembangunan tiga unit Ruang Kelas Baru, satu unit Laboratorium IPA, satu Ruang Administrasi Guru, satu Rumah Dinas Guru, tiga unit WC, rehabilitasi perpustakaan serta rehabilitasi sembilan ruang lainnya,” jelasnya.
Menurut Ferdinandus, seluruh proses pengerjaan dilakukan sesuai petunjuk teknis pemerintah, termasuk mekanisme pengelolaan anggaran dan perekrutan tenaga kerja lokal.
“Ruangan kelas dan seluruh pekerjaan dibelanjakan langsung oleh sekolah karena menggunakan sistem swakelola. Perekrutan mitra kerja seperti tukang dan buruh juga kita lakukan sesuai juknis yang berlaku,” ujarnya.
Apresiasi terhadap pembangunan tersebut juga datang dari masyarakat sekitar sekolah. Sejumlah warga yang enggan disebutkan identitasnya mengaku mengikuti langsung proses pembangunan sejak awal dan menilai pekerjaan berjalan tertib tanpa mengganggu aktivitas warga.
“Ini yang kami harapkan sejak lama. Pembangunan yang benar-benar memperhatikan kualitas, bukan sekadar cepat selesai,” ujar salah satu warga.
Bagi masyarakat setempat, kualitas proses pembangunan dinilai sama pentingnya dengan hasil akhir. Disiplin pekerja, penggunaan material yang baik, serta keterlibatan berbagai pihak menjadi indikator keberhasilan proyek tersebut.
Rampungnya proyek revitalisasi SMPN 6 Poco Ranaka tidak sekadar menghadirkan bangunan baru, tetapi juga membawa harapan besar bagi peningkatan kualitas pendidikan di wilayah pedalaman. Proyek ini menjadi bukti bahwa ketika pemerintah, sekolah, pekerja, dan masyarakat berjalan dalam semangat integritas dan kolaborasi, keterbatasan geografis bukan lagi penghalang kemajuan.
Revitalisasi ini pun diharapkan menjadi titik awal lahirnya lingkungan pendidikan yang lebih layak dan bermartabat, sekaligus membuka peluang masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda Poco Ranaka melalui akses pendidikan yang semakin berkualitas.(*)











