RUTENG, FAJARNTT.COM – Rencana pemanfaatan potensi aliran air di kawasan Cunca Lega, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, membuka babak baru dalam pengembangan energi terbarukan di wilayah tersebut. Air terjun yang selama ini dikenal dengan keindahan alamnya kini disiapkan untuk menjadi sumber listrik berbasis mikrohidro yang ramah lingkungan, tanpa menghilangkan fungsi utama sungai maupun pesona wisata yang telah melekat.
Pemerintah daerah bersama pihak pengembang menyebut proyek ini sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan energi sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Aliran Wae Lega yang melintasi kawasan tersebut dinilai memiliki debit yang stabil dan cukup potensial untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).
“Potensi air di Cunca Lega ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan menjadi sumber energi bersih. Kami berupaya agar pemanfaatannya tetap menjaga kelestarian lingkungan dan tidak mengganggu kebutuhan masyarakat sekitar,” ujar seorang perwakilan pemerintah daerah Manggarai.
Dalam konsep yang dirancang, pembangunan PLTMH tidak akan membendung aliran sungai secara total. Air tetap dibiarkan mengalir seperti biasa, sementara sebagian kecil dialihkan melalui saluran khusus untuk memutar turbin sebelum dikembalikan lagi ke aliran utama. Skema ini diklaim dapat menjaga ekosistem air terjun sekaligus memastikan ketersediaan air bagi irigasi pertanian warga di hilir.
Pihak pengembang proyek juga menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan bersifat ramah lingkungan dan berbasis keberlanjutan. Selain menghasilkan listrik, proyek ini diharapkan menjadi contoh nyata pemanfaatan energi terbarukan di daerah pedesaan yang masih memiliki keterbatasan akses listrik stabil.
“Prinsip utama kami adalah bagaimana energi bisa dihasilkan tanpa merusak alam. Air tetap menjadi bagian dari ekosistem, hanya sebagian kecil energinya yang kita manfaatkan untuk kebutuhan listrik masyarakat,” kata seorang perwakilan pengembang proyek.
Selain aspek energi, Cunca Lega juga diproyeksikan menjadi kawasan yang menggabungkan fungsi wisata alam dan edukasi energi terbarukan. Keberadaan pembangkit mikrohidro diharapkan dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan, terutama mereka yang ingin melihat langsung bagaimana energi bersih dihasilkan dari alam tanpa teknologi yang merusak lingkungan.
Warga sekitar menyambut rencana ini dengan harapan besar, terutama terkait potensi peningkatan akses listrik dan peluang ekonomi baru. Beberapa warga menilai kehadiran proyek ini dapat membuka lapangan kerja baru, baik dalam tahap pembangunan maupun saat operasional nanti.
“Kalau benar ini bisa membawa listrik yang lebih stabil dan juga membuka peluang kerja, tentu kami sangat mendukung. Tapi kami juga berharap alam di sini tetap dijaga, karena Cunca Lega ini bagian dari kehidupan kami,” ujar seorang warga setempat.
Meski demikian, di balik optimisme tersebut, muncul pula perhatian terhadap aspek sosial dan dampak lingkungan. Sejumlah pihak menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, terutama terkait lahan dan potensi perubahan ekosistem di sekitar lokasi proyek. Transparansi dan komunikasi dianggap menjadi kunci agar pembangunan tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.
Proyek Cunca Lega kini menjadi salah satu contoh bagaimana daerah di Flores mulai melirik energi terbarukan sebagai bagian dari masa depan pembangunan. Jika berjalan sesuai rencana, kawasan ini tidak hanya akan dikenal sebagai destinasi wisata alam yang indah, tetapi juga sebagai simbol transisi energi bersih di tingkat lokal.
Dengan aliran air yang terus mengalir dari pegunungan Manggarai, Cunca Lega perlahan berubah dari sekadar lanskap wisata menjadi sumber harapan baru bagi kemandirian energi masyarakat setempat.(*)
















