close menu

Masuk


Tutup x

Evaluasi Perdana Desa Nao, Perkuat BUMDes Lewat Pengembangan Usaha Lele dan Jagung

Dalam pemaparannya, Petrus Patmos juga menjelaskan bahwa BUMDes Desa Nao saat ini tengah mengembangkan sejumlah unit usaha yang berbasis potensi lokal,foto(Dok.FAJAR NTT).
Dalam pemaparannya, Petrus Patmos juga menjelaskan bahwa BUMDes Desa Nao saat ini tengah mengembangkan sejumlah unit usaha yang berbasis potensi lokal,foto(Dok.FAJAR NTT).

Penulis: | Editor: Tim

RUTENG,FAJARNTT.COM– Pemerintah Desa Nao, Kecamatan Satar Mese Utara, Kabupaten Manggarai, menggelar kegiatan evaluasi perdana program pembangunan desa pada Kamis, 16 April 2026, sebagai langkah strategis dalam memperkuat tata kelola pemerintahan desa sekaligus mendorong pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai pilar utama ekonomi masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung secara partisipatif ini melibatkan pemerintah desa, pendamping desa, tenaga profesional Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD), serta pengurus BUMDes. Evaluasi difokuskan pada capaian program, kendala di lapangan, serta arah pengembangan usaha BUMDes berbasis potensi lokal.

Kepala Desa Nao, Petrus Patmos, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa evaluasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat arah pembangunan desa secara berkelanjutan.

“Evaluasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi bersama untuk melihat capaian dan kekurangan yang ada. Saya mengajak seluruh elemen desa untuk bersatu dalam memperkuat BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Petrus Patmos juga menjelaskan bahwa BUMDes Desa Nao saat ini tengah mengembangkan sejumlah unit usaha yang berbasis potensi lokal, di antaranya budidaya ikan lele dan pertanian jagung. Menurutnya, kedua sektor ini dipilih karena memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan serta sesuai dengan kondisi geografis dan sumber daya yang dimiliki masyarakat.

“Kami mulai mengembangkan usaha budidaya ikan lele karena permintaan pasar cukup tinggi dan relatif mudah dikelola oleh masyarakat. Selain itu, usaha pertanian jagung juga terus kami dorong sebagai komoditas unggulan desa yang dapat meningkatkan pendapatan petani,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan usaha tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga untuk membuka peluang kerja dan memberdayakan masyarakat secara langsung.

“BUMDes harus hadir sebagai solusi ekonomi bagi masyarakat. Melalui usaha lele dan jagung ini, kami berharap ada dampak nyata, baik dalam peningkatan pendapatan masyarakat maupun dalam menciptakan lapangan kerja di desa,” lanjutnya.

Disisi lain pendamping Desa, Maria Reneldis Jemat, S.Sos, memberikan apresiasi terhadap langkah konkret Pemerintah Desa Nao dalam mengembangkan usaha produktif melalui BUMDes.

“Komitmen yang ditunjukkan pemerintah desa dalam mengelola potensi lokal seperti lele dan jagung merupakan langkah yang tepat. Ini menjadi dasar kuat untuk membangun BUMDes yang berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas pengelola BUMDes agar usaha yang dijalankan dapat berkembang secara maksimal, termasuk dalam aspek manajemen, pemasaran, dan inovasi produk.

Sementara itu, tenaga pendamping profesional P3MD, Gregorius A. Mantur, menilai bahwa pengembangan usaha berbasis potensi lokal merupakan strategi yang relevan dalam mendorong kemandirian desa.

“Pemilihan usaha seperti budidaya lele dan pertanian jagung adalah langkah yang tepat karena berbasis pada potensi nyata desa. Ke depan, yang perlu diperkuat adalah manajemen usaha, jaringan pemasaran, serta inovasi agar usaha ini bisa berkembang lebih besar,” jelasnya.

Ia berharap BUMDes Desa Nao dapat terus berinovasi dan menjadi contoh pengelolaan usaha desa yang produktif dan berdaya saing.

Hal senada juga disampaikan oleh ketua BUMDes Desa Nao, Yohanes Garung, menyampaikan bahwa pihaknya siap mengoptimalkan pengelolaan unit usaha yang telah berjalan, sekaligus melakukan pembenahan di berbagai aspek.

“Kami akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan usaha, baik di sektor budidaya lele maupun pertanian jagung. Dukungan dari pemerintah desa dan pendamping menjadi kekuatan bagi kami untuk terus berkembang,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa ke depan BUMDes akan berupaya memperluas skala usaha dan meningkatkan hasil produksi agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).

Kegiatan evaluasi ini ditutup dengan diskusi interaktif yang menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya penguatan kelembagaan BUMDes, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan usaha berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

Melalui evaluasi perdana yang digelar pada 16 April 2026 ini, Pemerintah Desa Nao menunjukkan komitmen kuat dalam membangun desa yang mandiri secara ekonomi.

Sinergi antara pemerintah desa, pendamping, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi utama dalam mengembangkan BUMDes yang tangguh, inovatif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Nao.(**)

Konten

Sebelumnya aktif sebagai kontributor di beberapa media siber. Kini aktif sebagai jurnalis di media siber Fajar NTT.

Komentar

You must be logged in to post a comment.

Terkini Lain

Konten
Kedai Momica
<