
Penulis: Nal Jehaut | Editor: Tim
Dibuat oleh: Mahasiswa Unika St Paulus Ruteng.
RUTENG,FAJAR NTT.COM- Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng terus memperkuat strategi untuk meningkatkan kualitas literasi mahasiswa di tengah masifnya arus informasi digital.
Meski akses informasi kian terbuka, kemampuan analisis kritis dan budaya membaca mendalam masih menjadi tantangan utama di lingkungan kampus.
Berdasarkan hasil wawancara pada Selasa (14/4/2026),kemampuan literasi mahasiswa saat ini dinilai masih dalam tahap berkembang. Kemudahan akses digital rupanya belum berbanding lurus dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan evaluasi kritis terhadap sumber informasi.
Dosen Unika Santu Paulus, Romo Bonefasius Rampung, S.Fil., M.Pd., menyoroti fenomena kecepatan akses yang tidak dibarengi dengan ketelitian. Menurutnya, mahasiswa cenderung instan dalam menyerap informasi tanpa melalui proses verifikasi yang kuat.
“Tantangan utamanya adalah rendahnya budaya membaca berkelanjutan. Ada kecenderungan menggunakan sumber secara instan tanpa pengolahan mendalam,” ujar Keprodi PBSI itu.
Senada dengan itu, Indra Susanto, M.TESOL., menekankan bahwa integrasi literasi dalam kurikulum adalah harga mati.
Ia menerapkan strategi penulisan akademik dan analisis jurnal untuk melatih nalar kritis mahasiswa agar tidak terjebak hoaks atau informasi keliru.
Sementara itu, mahasiswa mengakui adanya kesenjangan antara kemudahan akses dan pemahaman konten. Trisno Arkadeus, salah seorang mahasiswa, menyebutkan bahwa memahami teks akademik yang kompleks masih menjadi kendala utama.
Hal senada juga disampaikan oleh Wilhelmina Tantri bahwa meski sumber daring melimpah, minat untuk membaca buku secara mendalam masih rendah.
“Peran dosen sangat krusial untuk mendorong kami aktif membaca dan menulis melalui penugasan yang lebih terarah,” ungkap Wilhelmina.
Pihak kampus sendiri mengeklaim telah menyediakan fasilitas literasi digital dan perpustakaan yang memadai. Namun, efektivitas fasilitas tersebut kini bergantung pada upaya kolektif dalam membangun ekosistem budaya baca yang konsisten di lingkungan kampus.(**)


