close menu

Masuk


Tutup x

Latih Disiplin dari Sampah, Gerakan SAKTI Paroki Karot Bangun Budaya Bersih Sejak Dini

Latih Disiplin dari Sampah, Gerakan SAKTI Paroki Karot Bangun Budaya Bersih Sejak Dini
Latih Disiplin dari Sampah, Gerakan SAKTI Paroki Karot Bangun Budaya Bersih Sejak Dini

Penulis: | Editor: Redaksi

FAJARNTT.COM – Kesadaran menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Di Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, perubahan justru dimulai dari hal sederhana: satu kantong sampah plastik setiap hari. Melalui Gerakan SAKTI (Satu Kantong Sampah Plastik Tiap Hari), anak-anak sekolah dilatih untuk disiplin, bertanggung jawab, sekaligus peduli terhadap lingkungan sejak usia dini.

Gerakan yang telah berjalan sekitar satu bulan ini menjadi inisiatif nyata dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Karot yang kemudian disepakati bersama Pastor Paroki, Seksi Kependidikan Dewan Paroki, serta didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manggarai. Program ini menyasar berbagai lembaga pendidikan di wilayah paroki, mulai dari SDI, SDK hingga SMK Elanus.

Berangkat dari keprihatinan akan maraknya sampah plastik yang berserakan, baik dari kebiasaan jajan anak-anak di sekolah maupun limbah rumah tangga seperti kemasan saset dari dapur, Gerakan SAKTI hadir sebagai jawaban konkret. Setiap siswa diminta membawa satu kantong sampah plastik dari rumah atau lingkungan sekitar pada hari yang telah ditentukan, yakni setiap Rabu dan Sabtu.

Di sekolah, sampah tersebut dikumpulkan dan dipantau secara langsung. Para wali kelas bahkan turut dilibatkan untuk menilai karakter siswa, khususnya dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab. Dengan pendekatan ini, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter.

Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, RP. Bonivantura Y. Lelo, OFM, yang akrab disapa Pater Bovan, menegaskan bahwa gerakan ini bertujuan membentuk kebiasaan baru yang berdampak jangka panjang.

“Gerakan SAKTI ini kami dorong sebagai cara membangun habitus baru bagi anak-anak. Kami ingin mereka tidak hanya tahu bahwa sampah itu masalah, tetapi juga terbiasa mengambil tindakan nyata. Dari satu kantong sampah setiap hari, mereka belajar disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, pendekatan melalui pembiasaan jauh lebih efektif dibandingkan sekadar teori di dalam kelas.

“Kalau hanya diajarkan di kelas, mungkin anak-anak cepat lupa. Tapi kalau mereka lakukan sendiri setiap minggu, itu akan melekat. Ini proses pendidikan yang pelan tapi pasti, dan hasilnya akan kita lihat dalam jangka panjang,” tambahnya.

Ketua WKRI Cabang Karot, Dien Sema dalam keterangannya menegaskan bahwa Gerakan SAKTI lahir dari refleksi sederhana para ibu terhadap realitas sampah di lingkungan sekitar, yang semakin hari kian mengkhawatirkan.

“Kami para ibu melihat langsung bagaimana sampah plastik ini semakin banyak, baik dari anak-anak yang jajan setiap hari maupun dari dapur rumah tangga yang hampir semua menggunakan kemasan sekali pakai. Dari situ muncul kesadaran bahwa kami tidak bisa hanya mengeluh, tetapi harus mulai bertindak,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pemilihan anak-anak sebagai sasaran utama bukan tanpa alasan, melainkan sebagai strategi jangka panjang untuk membangun budaya baru.

“Kami sengaja menyasar anak-anak karena mereka adalah agen perubahan. Kalau sejak kecil mereka sudah dibiasakan mengelola sampah, maka ke depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli lingkungan. Bahkan mereka bisa menjadi penggerak di keluarga masing-masing,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ketua WKRI Cabang Karot juga menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan gerakan ini agar tidak berhenti sebagai program sesaat.

“Kami terus memantau pelaksanaannya di sekolah-sekolah, bekerja sama dengan para guru dan juga DLH. Harapan kami, gerakan ini tidak hanya berjalan sementara, tetapi bisa menjadi budaya yang melekat. Ke depan, kami juga ingin mengembangkan ke arah bank sampah, sehingga sampah yang dikumpulkan tidak hanya dibuang, tetapi juga memiliki nilai ekonomis,” tegasnya.

Sementara itu, Yustin Romas, anggota WKRI Cabang Karot, menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam Gerakan SAKTI adalah pembiasaan, bukan paksaan.

“Kami ingin anak-anak merasa ini sebagai bagian dari rutinitas mereka. Membawa satu kantong sampah itu sederhana, tapi kalau dilakukan terus-menerus, itu akan membentuk kesadaran. Mereka akan terbiasa melihat sampah, mengambilnya, dan tidak membuang sembarangan. Itu yang kami harapkan menjadi budaya,” jelasnya.

Lebih jauh, ia berharap gerakan ini bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain di Kota Ruteng.

“Kalau semua sekolah melakukan hal yang sama, dampaknya pasti luar biasa. Kota kita bisa menjadi lebih bersih, lebih indah. Bahkan kita bisa mewujudkan mimpi bersama menjadikan Ruteng sebagai kota molas sebagai kota yang bersih dan nyaman untuk semua,” katanya.

Pengalaman serupa sebelumnya pernah diterapkan di SMKN Wae Ri’i dan terbukti mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih bersih. Keberhasilan itu menjadi dasar kuat bagi WKRI untuk mengembangkan Gerakan SAKTI di Karot.

Dengan semangat kebersamaan dan konsistensi yang terus dijaga, Gerakan SAKTI kini tidak hanya menjadi program kebersihan, tetapi juga gerakan pendidikan karakter. Dari satu kantong sampah plastik setiap hari, anak-anak diajak belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dan dari diri sendiri.

Konten

Komentar

You must be logged in to post a comment.

Terkini Lain

Konten
Kedai Momica
<