FAJARNTT.COM – Anggapan bahwa bertani adalah pekerjaan kuno dan kurang menjanjikan perlahan mulai dipatahkan oleh ratusan anak muda di Kabupaten Manggarai. Melalui penerapan pertanian hijau modern yang ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim, sebanyak 209 petani muda berhasil menunjukkan bahwa sektor pertanian mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan sekaligus membuka masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda di pedesaan.
Keberhasilan tersebut terlihat dalam kegiatan panen raya Program Green Skills yang berlangsung di Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai. Program yang dijalankan selama satu tahun ini berhasil membekali para pemuda dengan keterampilan pertanian modern berbasis Climate-Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim.
Sebanyak 209 petani muda yang tergabung dalam 11 kelompok tani dari enam desa mendapatkan pelatihan intensif mengenai teknik budidaya pertanian yang lebih efektif, pengelolaan usaha tani, pemasaran hasil pertanian, hingga penguatan kapasitas kewirausahaan. Hasilnya, para peserta mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperoleh keuntungan ekonomi yang signifikan.
Program tersebut dilaksanakan oleh Yayasan Plan International Indonesia bekerja sama dengan RYTHM Foundation dan didukung Plan International Hong Kong sebagai bagian dari upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan.
Dalam kegiatan panen raya tersebut, para petani muda memamerkan berbagai hasil pertanian yang telah mereka kembangkan selama mengikuti program. Berbagai komoditas hortikultura yang ditanam menunjukkan hasil yang menggembirakan dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasar lokal.
Project Manager Green Skills Plan Indonesia, dalam keterangannya menjelaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Padahal, sektor ini memiliki potensi besar apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat dan memanfaatkan teknologi serta metode pertanian modern.
“Melalui program Green Skills, kami ingin membuktikan bahwa pertanian bukan lagi pekerjaan yang identik dengan kemiskinan atau keterbelakangan. Pertanian dapat menjadi sektor usaha yang menjanjikan bagi generasi muda jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa para peserta tidak hanya diajarkan bagaimana menanam dan memanen, tetapi juga dibekali kemampuan untuk mengelola usaha pertanian sebagai sebuah bisnis yang mampu memberikan keuntungan ekonomi bagi keluarga dan komunitas mereka.
Program tersebut juga melahirkan 43 pemuda yang ditetapkan sebagai youth champions atau duta perubahan. Mereka diharapkan menjadi motor penggerak bagi anak-anak muda lainnya untuk terlibat dalam sektor pertanian modern di desa masing-masing.
Salah seorang peserta program mengaku mendapatkan banyak manfaat sejak bergabung dalam pelatihan tersebut. Selain memperoleh pengetahuan baru, ia juga mampu meningkatkan pendapatan dari hasil pertanian yang dikelola bersama kelompoknya.
“Kami belajar banyak hal, mulai dari cara menanam yang baik, mengelola lahan secara ramah lingkungan, hingga bagaimana menjual hasil panen. Sekarang kami lebih percaya diri karena pertanian ternyata bisa memberikan penghasilan yang baik,” ungkapnya.
Keberhasilan para petani muda ini menjadi bukti bahwa perubahan pola pikir terhadap sektor pertanian mulai terjadi di Manggarai. Jika sebelumnya banyak anak muda memilih meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di kota, kini sebagian dari mereka justru melihat peluang besar yang tersedia di kampung halaman sendiri.
Pendekatan pertanian cerdas iklim yang diterapkan dalam program ini juga membantu petani menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat perubahan cuaca. Dengan metode budidaya yang lebih efisien, penggunaan sumber daya yang bijak, serta penerapan praktik ramah lingkungan, para petani muda mampu menjaga produktivitas lahan sekaligus mengurangi risiko gagal panen.
Tidak hanya memberikan dampak ekonomi, program Green Skills juga turut membangun semangat kewirausahaan dan kepemimpinan di kalangan generasi muda. Mereka didorong untuk menjadi pelaku utama pembangunan desa melalui sektor pertanian yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan.
Perwakilan Plan International Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan 209 petani muda tersebut menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam sektor pertanian.
“Kami melihat antusiasme yang luar biasa dari para peserta. Mereka membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, anak muda mampu menjadi pelaku pertanian modern yang sukses sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan daerah,” katanya.
Keberhasilan ratusan petani muda di Cibal Barat ini menjadi inspirasi bagi banyak daerah lain di Nusa Tenggara Timur. Di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lapangan kerja, dan arus urbanisasi yang terus meningkat, mereka membuktikan bahwa pertanian modern bukan lagi profesi kuno yang ditinggalkan generasi muda.
Sebaliknya, pertanian kini tampil sebagai sektor masa depan yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Kisah sukses 209 petani muda Manggarai menjadi bukti nyata bahwa ketika ilmu pengetahuan, teknologi, dan semangat anak muda dipadukan, sektor pertanian mampu menjadi jalan menuju kesuksesan dan kemandirian ekonomi di desa.
















