BERITA TERBARU
light_mode
TAGS
Beranda » DAERAH » Penerapan pembatasan kuota wisatawan pulau Padar Tuai Polemik Memanas

Penerapan pembatasan kuota wisatawan pulau Padar Tuai Polemik Memanas

  • account_circle Nal Jehaut
  • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
  • print Cetak

LABUAN BAJO,FAJARNTT.COM – Kebijakan pembatasan kunjungan ke Taman Nasional Komodo (TNK) dengan kuota maksimal 1.000 orang per hari kini memicu polemik panas. Di balik dalih pelestarian ekosistem yang digaungkan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), menyeruak aroma konspirasi dan dugaan pengondisian lahan bisnis bagi korporasi besar.

*Dalih Konservasi yang Dipertanyakan*

Dilansir dari media Suaranusatara.co, Kepala BTNK, Hendrik Siga, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa pembatasan ini krusial untuk melindungi satwa dan bentang alam dari tekanan aktivitas manusia. Namun, retorika tersebut dinilai kontradiktif dengan realitas di lapangan.

Sementara itu,Nasrallah (nama samaran), seorang warga yang bermukim di dalam kawasan kepulauan, mengungkapkan bahwa penerapan kuota ini hanyalah “akal-akalan” pengelola untuk memuluskan monopoli usaha pihak tertentu. Lebih lanjut Ia menyoroti inkonsistensi sikap Hendrik Siga terkait pemanfaatan sumber daya alam.

“Hendrik Siga menolak permintaan warga untuk memanfaatkan sumber air di Kerora dengan alasan sumber daya alam harus diutamakan bagi satwa. Namun, ketika pemodal besar masuk, dia justru hadir mendampingi sosialisasi untuk mencaplok ruang hidup Komodo,” ujar Nasrallah kepada Suara Nusantara pada Juma’at (27/3) siang.

*Ironi Pulau Padar dan Nasib Pariwisata Berbasis Masyarakat*

Nasrallah juga mengingatkan sejarah kepunahan lokal Komodo di Pulau Padar. Ironisnya, saat populasi mulai pulih, BTNK justru memberikan lampu hijau bagi pembangunan sarana-prasarana yang dinilai mengancam habitat tersebut.

Langkah ini dianggap mencederai semangat community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.

“Penerapan kuota ini dilakukan tanpa dialog dan diskusi dengan warga. Padahal, kearifan lokal masyarakatlah yang selama ini menjaga Komodo dari kepunahan,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa masyarakat sebelumnya telah dipaksa beralih profesi dari nelayan ke sektor pariwisata melalui program alternative livelihood, namun kini mata pencaharian baru mereka justru terancam oleh kebijakan sepihak.

*Ancaman “Hantu” Monopoli*

Keresahan utama warga dan pelaku wisata lokal mengerucut pada keterlibatan PT Komodo Wildlife Ecotourism milik pengusaha Tomy Winata. Berdasarkan dokumen yang diperoleh, terdapat rencana pembangunan 619 bangunan di lembah habitat Komodo di Pulau Rinca.

Dari total bangunan yang direncanakan kata Nasralah mencakup 448 Vila, 13 Restorant, 7 Lounge, 7 pusat kebugaran,7 Spa, 67 kolam renang, 1 Bar seluas 1.200 m², 1 Kastil bergaya Prancis dan 1 buah Kapela.

Kalkulasi Dampak Kuota terhadap Pelaku Lokal:

Kapasitas Vila: Jika satu vila menampung minimal 3 tamu, maka total hunian mencapai 1.239 orang.

Monopoli Kuota: Dengan kuota harian hanya 1.000 orang, maka seluruh jatah kunjungan berpotensi habis terserap oleh tamu hotel milik pemodal besar.

Dampak Ekonomi: Tour operator, agen perjalanan, pemandu lokal, hingga pemilik homestay di pulau-pulau diprediksi akan gulung tikar karena tidak kebagian kuota pengunjung.

“Dengan modal raksasa, mereka mampu beriklan hingga ke Eropa dan Amerika untuk menjaring tamu langsung ke fasilitas mereka. Jika ini dibiarkan, UMKM dan wirausahawan lokal akan mati dicekik monopoli,” tegas Nasrallah.

*Klarifikasi Kepala Balai Taman Nasional Komodo*

Sementara itu, kepala balai taman nasional komodo, Hendrikus Siga saat dikonfirmasi oleh media Suaranusantara.co, dengan jelas membantah bahwa penerapan pembatasan kuota wisatawan ke Pulau Padar sama sekali tidak berdampak negatif terhadap pelaku wisata lokal.

Kata dia kebijakan itu bertujuan melindungi warga lokal dan mendukung program pariwisata berkelanjutan dan tidak ada kaitan dengan kehadiran sejumlah bangunan yang direncanakan oleh Tomy Winata.

“Ini upaya utk melindungi warga lokal agar bisnis pariwisata dapat berkelanjutan jangka panjang. Dengan mengurangi tekanan terhadap TNK, alam akan terjaga, dalam jangka panjang bisnis pariwisata warga lokal dapat dipertahankan atau dilindungi. Agar alam terjaga dengan mengurangi tekanan terhadap kawasan, memperluas distribusi pengunjung di luar kawasan TNK, menghidupkan desa desa wisata yang sudah ada di daratan Flores sehingga tidak TNK oriented. Dan sama sekali tidak ada hubungannya,” jelas Hendrikus melansir dari suaranusantara.co yang di kirim melalui pesan whatsapp yang dikirim pada Juma’at Pkl. 19.43 Wita

Dengan adanya penerapan pembatasan kuota ini Ia (Hendrikus) mengajak para Tour Operator untuk menyesuaikan kebijakan ini dan mendistribusikan pengunjung ke luar wilayah TNK.

“Para tour operator memang harus secara bertahap mulai menyesuaikan dengan kebijakan ini. Harus mulai mendistribusikan pengunjung ke lokasi di luar TNK. Jangan semua tumpah ruah ke TNK. Lama lama TNK bisa hancur. Ini upaya yang tidak populer utk menyelamatkan kawasan TNK dan kegiatan bisnis pariwisata bisa lebih lama jangka panjang. Dan orang lokal yang paling rawan terkena dampak kalo TNK hancur. Investor investor bisa pindah waktu waktu waktu mencari tempat yg baru, orang lokal menikmati kehancuran yang terjadi di kemudian hari,” Tegasnya dengan narasi mendukung kebijakan investor jakarta yang hendak menguasai wilayah Padar.

*Respon Organisasi Pramu Wisata Labuan (PWL)*

Hal senada di sampaikan oleh Koordinator Pemandu Wisata Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat menjelaskan bahwa pemandu wisata lokal selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata di Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo.

Menurutnya, para pemandu wisata tidak hanya bertugas mendampingi wisatawan, tetapi juga berperan dalam edukasi konservasi serta menjaga kelestarian kawasan.

Karena itu, kebijakan yang diterapkan tanpa melibatkan pelaku lokal dinilai berpotensi menimbulkan ketimpangan ekonomi.

“Pemandu wisata lokal adalah bagian integral dari ekosistem pariwisata. Kebijakan yang tidak melibatkan mereka berpotensi memarginalkan masyarakat yang selama ini menjaga dan menghidupi pariwisata di Manggarai Barat,” jelas Apong Jana mengutip pemberitaan media infotimur.id yang diterbitkan pada Rabu (11/3/2026).

Hingga berita ini diturunkan, gelombang penolakan terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat dan pelaku pariwisata yang mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan kuota yang dianggap lebih berpihak pada korporasi ketimbang konservasi yang inklusif.(**)

Ikuti FajarNTT.com di saluran Klik disini >> WHATSAPP CHANNEL

Penulis

Kontributor aktif untuk media siber FAJARNTT.COM

KOMENTAR (0)

Saat ini belum ada komentar

KOMENTAR

ARTIKEL LAINNYA

  • Perayaan

    Perayaan HUT RI, PLN Beri Listrik Gratis ke Ribuan Keluarga Tidak Mampu

    • calendar_month Sabtu, 17 Agt 2024
    • account_circle Tim
    • 0Komentar

    JAKARTA, FAJARNTT.COM – Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, PT PLN (Persero) melalui program ‘Light Up The Dream’ berhasil memberikan sambungan listrik secara gratis kepada 7.357 keluarga kurang mampu sepanjang tahun 2024. Hal ini menambah jumlah keluarga yang mendapat bantuan program ‘Light Up The Dream menjadi total 24.451. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, program […]

  • DPRD Manggarai Buka Masa Sidang II 2024–2026: Arah Pembangunan dan Ekonomi Daerah Jadi Fokus Utama

    DPRD Manggarai Buka Masa Sidang II 2024–2026: Arah Pembangunan dan Ekonomi Daerah Jadi Fokus Utama

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle TIM
    • 0Komentar

    RUTENG, FJARNTT.COM – Masa Sidang II DPRD Kabupaten Manggarai Tahun Sidang 2024–2026 resmi dibuka dalam Rapat Paripurna yang berlangsung di ruang sidang DPRD Kabupaten Manggarai pada Jumat (27/3/2026). Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Manggarai, Paulus Peos, yang menegaskan bahwa masa sidang ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum penting untuk menentukan arah kebijakan […]

  • pasien

    Pasien Positif Rapid Antigen Asal Kuwus Dinyatakan Meninggal Dunia

    • calendar_month Rabu, 10 Feb 2021
    • account_circle Vincent Ngara
    • 0Komentar

    LABUAN BAJO, FAJAR NTT – Pasien yang terkonfirmasi positif rapid antigen asal Suka Bangka, Desa Compang Suka, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) meninggal dunia di RSUD Komodo, Labuan Bajo, Rabu (10/2/2021). Baca Juga : Breaking News : 1 Pasien di Puskesmas Golowelu Positif Rapid Antigen Pasien tersebut berinisial SP (70), berjenis kelamin laki-laki. Sebagaimana pemberitaan […]

  • Kasat Reskrim Iptu Robbyanli Dewa Putra yang didampingi KBO Reskrim Polres Manggarai mengelar Konferensi pers terkait progres penanganan kasus di semester awal tahun 2025.

    Lebih dari Separuh Kasus Diselesaikan, Satreskrim Polres Manggarai Tegaskan Komitmen Profesionalisme

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • account_circle TIM
    • 0Komentar

    RUTENG, FAJARNTT.COM – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Manggarai menunjukkan performa kinerja yang tajam dan profesional selama enam bulan pertama tahun 2025. Dari total 166 laporan polisi (LP) yang masuk sejak Januari hingga Juni 2025, sebanyak 102 kasus berhasil diselesaikan. Angka ini setara dengan 61,44 persen tingkat penyelesaian. Data tersebut disampaikan langsung oleh Kasatreskrim Polres […]

  • Ferdy Hasiman

    Ferdy Hasiman Dukung Pengembangan PLTP Ulumbu: Kita Butuh Listrik

    • calendar_month Sabtu, 27 Jul 2024
    • account_circle Tim
    • 0Komentar

    RUTENG, FAJARNTT.COM – Ferdy Hasiman menilai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu atau Geothermal mempunyai transisi energi, bahkan menyebut dampaknya baik untuk investasi pariwisata maupun bidang kelautan. Hal tersebut ia sampaikan saat kegiatan pertemuan lanjutan identifikasi dan pendataan awal lokasi pembangunan PLTP Ulumbu unit 5-6 (2×20 MW) Wallpad H,I,J dan Acsses Road di Poco […]

  • Myscha, siswa kelas 5 di SDI Compang Ngeles, menulis surat terbuka kepada presiden Prabowo Subianto mempertanyakan belum ada terealisasinya program makan bergizi gratis (MBG),foto(Dok.FAJARNTT)

    Suara dari Pelosok 3T: Siswi SD di Manggarai Timur Surati Presiden Prabowo Subianto Soal Program MBG

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Nal Jehaut
    • 0Komentar

    RUTENG, FAJARNTT.COM- Sebuah suara jujur dari pelosok negeri kembali mengetuk perhatian pemerintah pusat. Seorang siswi Sekolah Dasar di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto terkait belum terealisasinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya. Siswi bernama Myscha, yang duduk di kelas V SDI […]

expand_less