Walau Bangunan Retak, Semangat Belajar Siswa SDK Tontang Tak Ikut Luluh Lantak
- account_circle Nal Jehaut
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- print Cetak

Siswa SDK Tontang melakukan kegiatan belajar mengajar di tenda darurat. (Foto: Nal Jehaut/Fajarntt.com)
BORONG, FAJARNTT.COM – Gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, turut berdampak pada aktivitas pendidikan di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Tontang, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.
Guncangan tersebut menyebabkan sejumlah bagian bangunan SDK Tontang mengalami keretakan. Kondisi itu membuat ruang kelas belum dapat digunakan secara optimal karena faktor keamanan, terutama setelah wilayah tersebut masih berpotensi mengalami gempa susulan.
Dampak gempa tidak hanya terlihat pada kondisi fisik bangunan sekolah. Aktivitas belajar mengajar (KBM) juga sempat dihentikan menyusul imbauan pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Timur bersama Dinas Pendidikan Provinsi NTT agar kegiatan pembelajaran diliburkan hingga 28 Agustus 2026.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik di tengah kondisi bangunan yang terdampak gempa.
Namun, setelah masa libur berakhir, semangat pendidikan di SDK Tontang kembali dinyalakan. Keterbatasan ruang belajar tidak membuat sekolah menghentikan kegiatan pembelajaran.
Pihak sekolah memilih membangun tenda darurat secara swadaya sebagai ruang belajar sementara. Di tempat sederhana tersebut, guru dan siswa kembali melaksanakan KBM dengan fasilitas yang terbatas.
Meja dan kursi ditata di dalam tenda. Guru kembali berdiri di hadapan siswa untuk menyampaikan pelajaran, sementara para peserta didik tetap mengikuti proses pembelajaran dengan penuh perhatian.
Sekolah Bangun Tenda Darurat Secara Swadaya
Kepala SDK Tontang, Efremtus Evan Isak, mengatakan tenda darurat tersebut dibangun secara swadaya oleh pihak sekolah. Sementara bahan penutup berupa terpal diperoleh melalui bantuan Wahana Visi Indonesia (WVI).
“Untuk tenda darurat ini, kami pihak sekolah yang membuat. Sementara untuk atap seperti terpal, WVI yang menyalurkan kepada kami,” ujar Efremtus, pada Sabtu, 5 Agustus 2026.
Menurutnya, pembangunan tenda menjadi langkah sementara agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan setelah ruang kelas terdampak gempa dan belum memungkinkan digunakan secara maksimal.
“Kami dari lembaga sekolah, lebih khusus saya sebagai kepala sekolah, menginginkan tenda yang layak untuk siswa kami di Sekolah Dasar Katolik Tontang. Meskipun kami melaksanakan KBM di tenda darurat, anak-anak siswa tetap rajin datang ke sekolah untuk mengikuti KBM,” ungkapnya.
Bagi pihak sekolah, keberadaan tenda bukan sekadar tempat sementara. Tenda tersebut menjadi ruang alternatif agar siswa tetap mendapatkan hak pendidikan sekaligus menjaga rutinitas mereka setelah mengalami bencana.
Retakan Bangunan Jadi Perhatian
Keretakan pada sejumlah bagian bangunan sekolah menjadi perhatian pihak SDK Tontang. Kondisi tersebut membuat penggunaan ruang kelas harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan.
Sekolah kemudian mengambil langkah untuk memanfaatkan ruang belajar sementara hingga kondisi bangunan dapat dipastikan aman untuk kembali digunakan.
Situasi tersebut menuntut guru dan siswa untuk beradaptasi. Proses pembelajaran tetap dilaksanakan meski tidak lagi berlangsung di ruang kelas sebagaimana sebelum gempa.
Di tengah keterbatasan itu, para guru tetap menjalankan tugasnya. Materi pelajaran disampaikan seperti biasa, sementara siswa tetap mengikuti kegiatan belajar dengan penuh semangat.
Semangat Siswa Tak Padam
Hal paling kuat yang terlihat setelah gempa adalah kehadiran para siswa. Meski harus belajar di bawah tenda darurat, mereka tetap datang ke sekolah dan mengikuti pembelajaran.
Buku tetap dibuka. Meja dan kursi tetap digunakan. Guru tetap mengajar. Suasana belajar pun perlahan kembali hadir di tengah kondisi sekolah yang belum sepenuhnya pulih.
Bagi anak-anak SDK Tontang, tenda darurat tersebut menjadi ruang untuk kembali membangun rutinitas. Di tempat itu mereka bertemu guru, berkumpul bersama teman, dan melanjutkan proses belajar yang sempat terhenti akibat bencana.
Semangat tersebut sekaligus menjadi gambaran ketangguhan sekolah dalam menghadapi situasi darurat. Keterbatasan fasilitas tidak menjadi alasan untuk menghentikan pendidikan.
Masih Membutuhkan Tenda yang Lebih Layak
Meski KBM telah kembali berjalan, SDK Tontang masih membutuhkan dukungan berupa tenda belajar yang lebih layak, aman, dan nyaman.
Tenda yang digunakan saat ini merupakan fasilitas darurat yang dibangun untuk menjawab kebutuhan mendesak. Karena itu, pihak sekolah berharap adanya dukungan dari pemerintah maupun lembaga kemanusiaan agar tersedia ruang belajar sementara yang lebih memadai.
Efremtus mengatakan keberadaan fasilitas belajar yang layak sangat penting selama bangunan sekolah masih dalam kondisi terdampak dan belum dapat digunakan secara optimal.
Kondisi cuaca juga menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan KBM di bawah tenda. Hujan maupun panas dapat memengaruhi kenyamanan siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung.
Karena itu, dukungan terhadap penyediaan tenda yang lebih kokoh dan representatif dinilai menjadi kebutuhan penting selama masa pemulihan.
Pendidikan Harus Tetap Berjalan
Bencana gempa tidak hanya meninggalkan keretakan pada bangunan, tetapi juga mengubah keseharian masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Di SDK Tontang, keretakan bangunan membuat ruang belajar harus dipindahkan sementara. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkah guru dan siswa untuk kembali ke sekolah.
Sekolah berusaha mencari solusi, guru tetap mengajar, siswa tetap hadir, sementara bantuan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pemulihan pascagempa tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan. Keberlangsungan pendidikan anak-anak juga harus menjadi perhatian karena sekolah merupakan ruang penting untuk mengembalikan rasa aman, rutinitas, dan harapan setelah bencana.
Dari Bawah Tenda, Harapan Tetap Tumbuh
Gempa 15 Agustus 2026 meninggalkan keretakan pada bangunan SDK Tontang dan memaksa kegiatan belajar berpindah ke ruang darurat.
Namun, keretakan bangunan tidak serta-merta meretakkan semangat anak-anak untuk belajar.
Di bawah tenda sederhana, suara guru kembali terdengar. Buku-buku kembali dibuka. Para siswa kembali duduk bersama dan mengikuti pelajaran.
Tenda itu mungkin belum mampu menggantikan kenyamanan ruang kelas yang sebenarnya. Namun, dari tempat sederhana tersebut, sebuah semangat sedang dipertahankan: bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena bencana.
Bangunan sekolah dapat mengalami keretakan akibat guncangan bumi. Tetapi harapan anak-anak untuk belajar dan meraih masa depan harus tetap berdiri kokoh.
Dari bawah tenda darurat SDK Tontang, semangat itu tetap menyala. Dan dari sanalah, harapan untuk bangkit kembali tumbuh.(*)



Saat ini belum ada komentar