Arsip Tag: Puisi

Puisi

Puisi: Hujan di Bulan Januari

Hujan di Bulan Januari

Hujan di hari senin
Nada rintik hujan menerpa dedaunan
Dan kembali membasahi bumi
Naik turun iramanya merdu terlantun.

Nadi bergetar seiring dawai mengalun
Nan indah sejuk laksana embun
Nuansa indah dengan siraman air hujan
Menambah kesejukkan udara
Walau terasa amat dingin.

Karunia Tuhan yang tanpa diperhitungkan
Segala tanaman bersujud padanya
Akankah kita menganggap hal yang sama?
Akankah kita menganggap hal biasa?.

Naluri alam menghimpun awan
Nanar mata memandang
Mendung terhujun
Nampak legam hitam berumpun.

Hujan deras membasahi bumi
Hujan datang lagi!.

Sejenak ku menatap balutan gemercik bersama lukaku
Dikala daun tersentuh rintik air hujan
Sejenak mata menatap lalu beranjak menuju senyap.

Aku tak hilang! hanya bersembunyi dibalik selimut saat memeluk dinginnya sang hujan
Dia terus terdengar bersama siang yang menyamar.

Hati yang luka lara memaksa terus menatap gemercik air hujan
Biar ku pejamkan mata menikmati balutanmu bersama jiwa yang lara
Biarkan alunan iramamu menyejukkan jiwa.

Gemuruhmu menjadi cambuk
Dalam air matamu ku kirimkan doa pada sang kuasa
Walaupun dingin membuatku menggigil
Ku coba bertahan.

Aku ingin seperti hujan, tanpa mengeluh
Kehadiranmu bisa dirasakan olehku
Denganmu, aku bahagia..

*)Actyk Selvina

Puisi

Puisi: Keistimewaan Dalam Kesederhanaan

Keistimewaan dalam Kesederhanaan

Serupa kerang yang menyimpan mutiara
Didalam cangkangnya yang jauh dari kata indah
Seperti itulah kesederhanaan menyimpan keistimewaan didalamnya.

Kadang ku berpikir bahwa cangkang kerang mutiara
Tak nampak sesuatu apapun padanya yang disebut sebagai indah.

Namun dia mampu memberikan sesuatu yang sangat istimewa
Memang benar adanya bahwa penampilan luar adalah sebuah sampul dari sebuah nyata.

Sebagai manusia
Ku hanya segelintir kisah dari sebuah buku kehidupan
Dan masih banyak belajar untuk menjaga perasaan.

Karena sesulit apapun perjuangan untuk mendapatkan sesuatu
Tak sebanding dengan betapa sulitnya dalam mempertahankan apa yang sudah kita miliki.

*) Actyk Selvina

Puisi

Puisi-puisi Heribertus Kabur

Puisi-puisi Heribertus Kabur

 

Diam

Ketika tanda malam sudah tiba

Tubuh nampak gemetar merasakan

dinginnya malam.

Sunyipun kembali menanti

teringat akan diam dikala itu bintang yang mulai nampak.

 

Ketika menatap dalam keheningan

hatipun terasa sendiri

ketika diam itu dimulai diam

bukan diam yang ku maksud

tetapi pikiran yang mulai kosong

seakan gelap telah menantang dikala itu

memperdaya pikiranku

oh…oh…oh.

 

Ternyata keheningan itu membawaku pergi

dalam sebuah mimpi panjang

ternyata mimpi itu menghantarkanku

untuk keluar dari pikiran kosong.

(Cumbi, 4 Maret 2020)


Kecemasan di Bulan Januari

Tak ada yang lebih indah di januari

Ketika membuka tahun yang baru Menjadikan bulan yang penuh dengan kecemasan

Menumbuhkan segala sakit dan penyakit

Menggegerkan dunia dengan segala berita dan derita

Serta menghentikan segala keramaiyan menjadi Keheningan

 

Seakan dunia ini berada dalam penjara nerakamu

Mengobarkan api yang panas bagi kehidupan di bumi

Membuat menjadi tidakberdaya

Hanya bisa berpasrah dan berserah kepada-Nya

(Tenda, 05 maret 2020)


Aku Bukan Puisi

Diriku bukanlah sebait puisi yang bisa kau baca

Bukan juga syair yang mempesonakan hati

Tapi ia adalah goresan yang tak kunjung

Kering

 

Aku tiada memiki keindahan

seperti senja yang sering kau lihat

Ketika malam berhias bulan

Yang selalu kau gambarkan.

 

Aku adalah padang rindu yang selalu bernyanyi

Ladang cinta yang dingin tiada tara

Berhentilah bermimpi

Bila kau idamkan.

 

Berhentilah berhara

Karena sang melati dikedua tanganku

Telah kehilangan keharumannya

Mawar juga tak lagi merah

Semerah hatimu.

 

 

 

 

 

 

Suka “Isi Celana”

Oleh : Alexander Wande Wegha

(Penulis sedang belajar di STFK Ledalero Maumere tinggal di Biara Scalabrinian)


Buta mataku melihat kusut tiraimu

Kembang kempis menghirup semilir

Kiri dan kanan bergerak mencari arah

Agar lekas laku lengkungnya

 

Dan itupun, ukuran tak ingin kau pahami

Bermata tiga sudah jadi hidangan

Guna aura diliput hormat

Menutup mata heningkan zakar

Menawar kata puas dibeli

Hingga tuntas mandikan susu

Serabut akar pamit luluh

 

Saku mendalam menyimpan hasrat

Untuk tangan sempat mengunjung

Terhempas dahaga telaga hening

Agar kelak matamu buka

Saku celana isinya ganas

 

*) Scalabrinian Nita, 24 Agustus 2020