Arsip Kategori: Polhukam

Berita Dan Informasi Terkini dan Terbaru Hari Ini (Seluruh Artikel Tayang di Website www.fajarntt.com)

Kebangkitan Polandia

Kebangkitan Polandia Menjadi Kekuatan Baru Eropa

Setelah runtuhnya pilar-pilar ekonomi Jerman, kini terbuka jalan bagi “Sparta baru” dari dataran Eropa Timur.

Warsawa bukan lagi sekadar pelindung perbatasan, melainkan alternatif strategis yang mendefinisikan ulang lanskap kekuasaan Eropa modern.

Dan apakah pusat kekuatan Eropa menjadi bergeser dari Jerman ke Polandia ?

Runtuhnya Tiga Pilar Dominasi Jerman Pasca Invasi Ukraina.

Selama lebih dari tiga dekade pasca-Perang Dingin, stabilitas Eropa bertumpu pada kepemimpinan absolut Berlin. Jerman adalah mesin ekonomi, motor integrasi Uni Eropa, dan simbol stabilitas benua Eropa. Namun invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 telah membalikkan banyak asumsi lama.

Kemakmuran model ekonomi Jerman bertumpu pada tiga pilar utama yang tampak tak tergoyahkan. Energi murah dari Rusia, industri manufaktur berorientasi ekspor, dan posisi sentral dalam arsitektur politik Uni Eropa.

Model ini bekerja sangat baik dan efektif selama beberapa dekade. Industri Jerman menikmati pasokan energi murah, memproduksi barang bernilai tinggi, lalu mengekspornya ke seluruh dunia. Namun konflik di Ukraina meruntuhkan fondasi tersebut dalam semalam.

Terputusnya pasokan gas melalui pipa Nord Stream memicu krisis energi akut yang menelanjangi kerapuhan struktural industri Jerman. Model ekonomi yang sukses selama lebih dari tiga dekade, kini melambat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Biaya energi melonjak, pertumbuhan industri menurun, perkembangan ekonomi melambat, tulang punggung ekspor Jerman, mulai kehilangan daya saing. Sektor otomotif yang selama ini menjadi kebanggaan nasional tertekan oleh pergeseran global menuju kendaraan listrik, sementara inovasi Cina mengancam dari sisi lain.

Data menunjukkan PDB Jerman mengalami kontraksi dua tahun berturut-turut pada 2023 dan 2024. Sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah Jerman pasca-reunifikasi.

Kini, di tengah guncangan Jerman terjebak dalam stagnasi, sebuah alternatif pusat kekuatan Eropa baru mulai muncul. Polandia, sebuah Negara yang menjadi pusat gravitasi baru, lebih keras, lebih tegas, dan lebih siap secara geopolitik.

Ketika Geografi Menjadi Kekuatan Mesin Militer.

Pada akhir abad ke-18, Polandia dibagi-bagi oleh tiga kekuatan besar Rusia, Prusia, dan Austria. Negara ini dihapus dari peta dunia selama lebih dari satu abad. Pada Perang Dunia II, Polandia kehilangan seperlima populasinya. Warsawa rata dengan tanah. Lalu datang setengah abad di bawah pengaruh Soviet, di mana kedaulatan hanyalah ilusi yang diizinkan Moskow.

Secara geografis, Polandia memiliki lokasi yang sangat strategis. Terletak di antara Pegunungan Carpathian dan Sudeten, wilayah ini memiliki banyak sungai dan Teluk Gdansk sebagai pelabuhan utama. Posisinya telah menjadikannya rute perdagangan dan invasi antara Eropa Barat dan Timur.

Perang Ukraina memiliki andil dalam mengubah nilai strategis wilayah di Polandia. Polandia bukan hanya berbatasan langsung dengan Ukraina, ia telah bertransformasi menjadi logistical hub (jejaring penghubung) utama NATO. Diperkirakan 90 persen bantuan militer Barat ke Ukraina melewati wilayah Polandia.

Ini bukan sekadar koordinat geografis. Ini adalah bargaining power yang nyata. Setiap negosiasi NATO tentang strategi Eropa Timur kini harus melewati Polandia. Setiap keputusan pengerahan pasukan di flank timur aliansi mempertimbangkan Polandia sebagai pivot.

Polandia mengalokasikan 4,5 persen PDB-nya untuk pertahanan pada 2025 tertinggi di antara seluruh anggota NATO, melampaui bahkan Amerika Serikat secara persentase. Secara nominal, anggaran pertahanan Polandia mencapai sekitar 46,8 miliar dolar setara gabungan belanja pertahanan seluruh tetangganya di Eropa Tengah. Sejak 2016, angka ini tumbuh lebih dari 200 persen.

Kehadiran militer AS yang permanen di Polandia, sistem pertahanan rudal Aegis Ashore, dan diskusi tentang kebijakan berbagi nuklir NATO semakin mengukuhkan posisi ini. Polandia bukan lagi penerima jaminan keamanan. Polandia kini adalah produsen keamanan regional.

Para analis dari Danish Institute for International Studies (DIIS-Denmark) mencatat bahwa pada 2035, Polandia diproyeksikan memiliki pasukan darat terbesar di Uni Eropa 300.000 personel. Angkatan daratnya menjadi satu-satunya kekuatan militer di Eropa, selain AS, yang memiliki sistem pertahanan rudal Patriot PAC-3.

 Ekonomi yang Tumbuh Saat yang Lain Stagnan.

Sementara Jerman dan Prancis berjuang dengan stagnasi, Komisi Eropa memproyeksikan pertumbuhan PDB Polandia sebesar 3,5 persen pada 2026 jauh melampaui rata-rata kawasan. Dalam peringkat kota investasi EY European Attractiveness 2026, Warsawa melompat 21 peringkat ke posisi kelima, melampaui Amsterdam, Berlin, dan Madrid.

Pada 2025, Polandia mencatat 285 proyek investasi asing langsung naik 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Microsoft dan Google keduanya memperluas operasi pusat data dan kecerdasan buatan mereka di negara ini. Polandia menjadi destinasi utama R&D dan layanan IT di Eropa, menampung lebih dari 40 persen pusat outsourcing Kawasan Eropa Tengah dan Eropa Timur, dengan investasi yang bergeser ke arah keamanan siber dan solusi AI.

Polandia menawarkan tenaga kerja terampil dengan biaya kompetitif, pasar domestik yang besar, keanggotaan penuh Uni Eropa, dan kedekatan dengan prospek rekonstruksi Ukraina pascaperang. Relokasi perusahaan-perusahaan internasional dari Ukraina ke Polandia selama konflik semakin memperkuat peran Polandia sebagai hub (jejaring penghubung) bisnis Eropa Tengah.

Selain itu, Polandia sedang membangun terminal LNG di Świnoujście dan konektor energi listrik dengan Swedia melalui jalur Baltik. Ini adalah strategi sistematis untuk menjadikan Polandia sebagai gerbang energi alternatif bagi Eropa Tengah menggantikan peran pipa gas Rusia yang selama ini dikuasai Jerman.

Polandia tidak mau sekadar menjadi lokasi pabrik murah. Negara ini memposisikan diri sebagai penyedia keamanan utama, destinasi investasi terdepan, dan poros strategis Eropa dengan rantai pasok bernilai global.

Strategi dari Warsawa, Pelajaran untuk Malaka.

Kebangkitan Polandia memberikan refleksi yang sangat berharga bagi negara-negara berkembang (Global South), termasuk Indonesia, Kenya, India, dan setiap negara yang berada di titik infleksi geopolitik.

Polandia membuktikan bahwa keunggulan geografis dapat diubah menjadi pengaruh geopolitik. Namun ini tidak terjadi secara otomatis. Dibutuhkan koherensi kebijakan, investasi terarah, kapasitas industri, dan diplomasi yang meyakinkan. Polandia membangun infrastruktur logistik, kapasitas produksi pertahanan, dan jaringan aliansi proaktif. Hasilnya, mereka menjadi penjaga arus perdagangan dan suplai keamanan Eropa.

Indonesia menguasai salah satu chokepoint maritim paling krusial di dunia. Selat Malaka dan Selat Sunda dilalui sepertiga perdagangan global: minyak, LNG, kontainer teknologi, dan komoditas strategis. Nilai geografis ini secara objektif tidak kalah dari posisi darat Polandia di Dataran Eropa Timur.

Namun pertanyaan yang mengemuka adalah: mengapa Polandia mampu mendikte Brussels dan Washington melalui koordinat geografinya, sementara Indonesia seringkali hanya menjadi penonton dari lalu lintas kapal perang dan dagang di halamannya sendiri?

Politik “bebas aktif” Indonesia perlu diterjemahkan ke dalam narasi yang lebih jelas. Bebas berarti menjaga netralitas dalam konflik geopolitik. Aktif berarti membangun kapasitas maritim, infrastruktur energi, dan ekosistem teknologi yang meningkatkan nilai tawar domestik dan internasional.

Dengan meningkatkan prioritas pada modernisasi kapal laut, investasi pelabuhan kelas dunia, dan kebijakan industri yang mendorong transfer teknologi serta rantai pasok regional, Indonesia berpotensi menjadi jantung strategis Asia.

Geografi adalah penentu. Pertanyaannya adalah, akankah kita mengelolanya sebagai kebijakan pasif, atau sebagai instrumen aktif kebangkitan nasional?.

*)Penulis adalah Ketua AMSI (Angkatan Muda Sosialis Indonesia). Tinggal di Jakarta

Donald Trump

Pertemuan Trump-Xi di Beijing dan Kebangkitan Diplomasi Korporat

Siapa sebenarnya yang mengatur dunia hari ini, Negara atau Pasar ?

Atau hanya segelintir orang di belakang layar ?

Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Cina diredam dengan kalkulasi transaksional.

Pertemuan Yang Mengganti Bendera Negara dengan Meja Runding CEO.

Pada Kamis, 15 Mei 2026, Presiden AS Donald Trump melakukan kunjungan kenegaraan dengan Presiden Cina Xi Jinping di Beijing. Ini adalah kunjungan presiden AS ke China yang pertama dalam hampir satu dekade.

Kunjungan kenegaraan kali ini, tidak terlihat seperti sekedar diplomasi negara. Namun terlihat semakin menyerupai rapat direksi global. Trump sengaja mengaburkan batas tegas antara otoritas negara dan kekuatan penetrasi korporasi swasta. Ini menandai pergeseran paradigma diplomasi bisnis yang agresif, di mana kepentingan korporasi menjadi instrumen diplomasi.

Trump membawa rombongan besar CEO korporasi paling berpengaruh di AS. Rombongan CEO ini terbagi dalam dua sektor, yaitu sektor teknologi dan sektor keuangan. CEO yang meliputi sektor teknologi, yaitu: Elon Musk (Tesla & SpaceX), Tim Cook (Apple), Jensen Huang (Nvidia), Kelly Ortberg (Boeing), Cristiano Amon (Qualcomm), Sanjay Mehrotra (Micron Technology), Jim Anderson (Coherent), Jacob Thaysen (Illumina) dan H. Lawrence Culp Jr. (GE Aerospace).

Sedangkan CEO yang meliputi sektor keuangan, yaitu: Larry Fink (BlackRock), Stephen Schwarzman (Blackstone), David Solomon (Goldman Sachs), Jane Fraser (Citigroup), Ryan McInerney (Visa) dan Michael Miebach (Mastercard).

Pesannya cukup jelas. Trump memanfaatkan daya tawar korporasi ini sebagai tameng sekaligus pemukul dalam negosiasi bilateral. Diplomasi kini tidak lagi hanya dijalankan negara. Korporasi menjadi instrumen politik luar negeri. Semua raksasa teknologi, keuangan, dan industri yang dibawa memiliki urusan krusial di Cina. Mereka berkepentingan langsung atas rantai pasok, pabrik manufaktur, investasi, hingga pembatasan cip kecerdasan buatan (AI). Trump tampaknya sedang membangun model baru. Negara dan pasar bergerak bersamaan.

Scott Bessent, Sang Arsitek Diplomasi Korporasi.

 Presiden Donald Trump dikenal sebagai pemimpin yang tidak bergantung pada satu penasihat tunggal. Lingkaran pengaruhnya adalah konstelasi individu dengan agenda dan kepentingan beragam. Dalam kunjungan ke Beijing ini, Trump juga didampingi para penasehat dan pemangku jabatan Gedung Putih, meliputi Marco Rubio (Menteri Luar Negeri), Pete Hegseth (Menteri Pertahanan), Jamieson Greer (USTR), Scott Bessent (Menteri Keuangan), Stephen Miller (Deputy Chief of Staff for Policy), dan Robert Gabriel (Deputy National Security Advisor). Di antara lingkar pengaruh Trump, Scott Bessent tampak muncul sebagai figur paling menonjol dalam memfasilitasi jalur ekonomi menuju Beijing.

Bessent, adalah Menteri Keuangan Amerika Serikat, figur yang paling jarang disebut namun paling dalam pengaruhnya. Ia muncul sebagai salah satu pengatur jalur ekonomi paling berpengaruh dalam pemerintahan Trump. Bessent telah membangun jalur komunikasi awal dengan pihak Cina, khususnya Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, sejak akhir 2025, merancang kerangka kesepakatan yang saling menguntungkan, terutama terkait tarif, AI, rare earth, Taiwan, dan Iran. Pertemuan pendahuluan mereka di Seoul, sebelum Bessent bergabung dengan delegasi Trump di Beijing, menggarisbawahi perannya sebagai pengatur utama agenda ekonomi dan perdagangan.

Bessent mengambil peran terdepan dalam urusan Cina, dengan posisi yang menekankan “stabilitas dan keseimbangan” antara dua ekonomi terbesar dunia. Menariknya, area Cina ini tampaknya tidak melibatkan Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang biasanya dominan dalam isu-isu di Gaza, Ukraina, dan Iran, sama sekali tidak dilibatkan. Beijing adalah domain untuk Bessent, penasehat untuk Trump yang bertanggung jawab atas negosiasi ekonomi dan perdagangan langsung dengan pihak Cina.

Bessent juga dikenal sebagai tangan kanan George Soros. Melalui Soros Fund Management (SFM), pada tahun 1992 Bessent adalah otak dibalik Black Wednesday, krisis melemahnya pound sterling Inggris terhadap US Dollar. Dan juga pada tahun 2013, melemahnya mata uang Yen terhadap US Dollar.

Pencapaiannya bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga dalam mengantisipasi perubahan tren makroekonomi. Bessent kerap dipuji karena kemampuannya melihat pola besar dalam perekonomian global mulai dari pergerakan mata uang, obligasi, hingga pasar komoditas.

Kedaulatan Negara Dipersimpangan Pasar.

 Pertemuan Trump – Xi di Beijing memberi kita pelajaran sederhana namun mengganggu. Bukan sekadar diplomasi kepala negara, tapi ini adalah cermin dari bagaimana tatanan dunia baru sesungguhnya bekerja.

Trump tampaknya membaca perubahan zaman lebih cepat dibanding banyak pemimpin lain. Ia memahami bahwa pengaruh dunia modern tidak lagi sepenuhnya berada di ruang parlemen, kementerian, atau markas militer. Sebagian kekuatan itu telah berpindah ke ruang direksi korporasi global.

Delegasi CEO yang dibawanya adalah instrumen strategis. Mereka membawa kepentingan, jaringan, pasar, teknologi, dan daya tekan ekonomi yang dalam banyak situasi bahkan lebih cepat bekerja dibanding diplomasi formal.

Model diplomasi baru ini menyuguhkan stabilitas ekonomi dan akses pasar global bagi korporasi. Tetapi model ini datang dengan harga pengikisan transparansi, subordinasi nilai strategis pada kepentingan komersial, dan pelemahan mekanisme demokrasi yang mengawasi keputusan luar negeri. Ketika Scott Bessent yang berjejaring di pasar modal memainkan peran sentral, kita melihat bagaimana alat kebijakan ekonomi dipakai sebagai instrumen geopolitik bukan hanya untuk mengelola hubungan bilateral, tetapi untuk merestorasi keseimbangan domestik politik.

Bagi negara-negara Global South, implikasinya bukan abstrak. Indonesia adalah contoh paling nyata. Sebagai eksportir nikel terbesar dunia, komoditas krusial dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan teknologi AI, Indonesia secara langsung berada di persimpangan kepentingan AS dan Cina. Ketika Trump dan Xi bernegosiasi soal rare earth dan rantai pasok teknologi di Beijing, nasib kebijakan hilirisasi mineral Indonesia ikut dipertaruhkan di meja yang sama, tanpa kursi untuk Jakarta.

Ruang manuver kebijakan negara-negara seperti Indonesia semakin sempit. Perjanjian dagang dan akses teknologi kini dapat dipertukarkan dengan konsesi strategis antara dua kekuatan besar tanpa transparansi, tanpa mekanisme konsultasi bagi pihak ketiga yang terdampak. Ini bukan sekadar ketidakadilan struktural. Ini adalah alarm. Negara-negara Global South dan Indonesia perlu memperkuat kedaulatan ekonominya melalui diversifikasi mitra strategis, membangun kebijakan industri nasional yang tahan guncangan eksternal, dan secara aktif menuntut peran dalam forum-forum yang menentukan aturan main ekonomi global.

Memulihkan keseimbangan antara negara dan pasar bukan sekadar soal perdebatan akademis, ini kebutuhan mendesak bagi masa depan kedaulatan dan tatanan dunia yang tidak hanya sekedar baru tapi juga tatanan dunia yang harus adil.(*)

Penulis: Bobby Ciputra (Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia/AMSI). Tinggal di Jakarta.

Board of Peace

Prabowo di Antara Tokoh-Tokoh Tangguh

Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.

Retorika diplomasi untuk strategi geopolitik internasional yang sering disampaikan Prabowo Subianto. Kini, di Davos, Swiss, 22 Januari 2026, filosofi itu mendapat ujiannya ketika ia menandatangani piagam Board of Peace (BoP) bersama Donald Trump.

Perdamaian Dunia digenggaman Pria Tangguh.

Penandatanganan Piagam Board of Peace (BoP) bukanlah seremoni biasa. Kehadiran Prabowo (Presiden Republik Indonesia) bersama Donald Trump (Presiden Amerika Serikat) dan Viktor Orban (Perdana Menteri Hongaria) mengirimkan pesan yang jauh melampaui diplomasi simbolik.

Board of Peace (BoP) adalah platform kekuasaan alternatif, dibangun di luar tatanan internasional lama. Trump terlihat tidak menyukai institusi. Ia menyukai hubungan personal. Ia menghargai loyalitas simbolik. Dan Prabowo memahami logika ini.

Trump, yang dikenal anti-institusi multilateral tradisional, justru membangun institusi paralel dengan dirinya sebagai ketua seumur hidup dengan hak veto absolut, sebagaimana rincian dalam draf piagam 11 halaman.

Keputusan Indonesia untuk bergabung tidak dapat dibaca sebagai ketundukan. Ia lebih tepat dibaca sebagai kesadaran taktik geopolitik. Yang berangkat dari realitas bahwa multilateralisme sedang melemah. Dunia bergerak ke arah multipolar yang keras dan transaksional.

Sebagian besar sekutu Barat menolak bergabung. Inggris, Prancis, Jerman, dan Norwegia absen dari upacara penandatanganan. Mereka khawatir Board of Peace (BoP) akan menggerogoti legitimasi PBB. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan mengkritik keras struktur piagam yang melampaui kerangka Gaza dan menimbulkan pertanyaan serius tentang prinsip dan struktur PBB. Trump merespons dengan ancaman tarif 200% untuk anggur dan sampanye Prancis. Pola ini terlihat jelas loyalitas dihargai, kritik dihukum.

Campur Tangan

Campur Tangan Trump di Iran dari Sanksi hingga Cuitan

Apakah cuitan Donald Trump dapat mengguncang stabilitas geopolitik Timur Tengah ?

Melalui platform Truth Social pada 2 Januari 2026, Trump mengeluarkan ancaman intervensi militer terhadap Iran dengan frasa “locked and loaded”.

Awal interfensi Amerika di Iran.

Amerika memiliki sejarah panjang campur tangan dalam urusan internal Iran. Tanggal 19 Agustus 1953 menandai titik balik sejarah hubungan Iran-Amerika. Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadegh, digulingkan dalam kudeta yang direkayasa oleh CIA dan intelijen Inggris MI6. Alasan utamanya adalah Mossadegh berani menasionalisasi industri minyak Iran yang selama puluhan tahun dikuasai perusahaan Anglo-Iranian Oil Company milik Inggris.

Kermit Roosevelt, cucu Presiden Theodore Roosevelt dan agen CIA yang memimpin operasi, membawa koper berisi uang tunai ke Tehran untuk menyuap editor surat kabar, membayar demonstran jalanan, dan menciptakan partai komunis palsu sebagai kambing hitam, dan menewaskan sekitar 300 orang di Tehran. Propaganda melalui media massa, selebaran, dan jaringan klerus Tehran digunakan untuk melemahkan pemerintahan Mossadegh dengan cara apapun.

Kemudian Mossadegh ditangkap, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, dan menghabiskan sisa hidupnya dalam tahanan rumah hingga meninggal tahun 1967. Selama dua puluh lima tahun (1953-1979) Amerika mendukung penuh rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi untuk berkuasa. Dan sebagai ucapan terima kasih atas bantuan Amerika, Shah menyerahkan 40 persen ladang minyak Iran kepada perusahaan-perusahaan Amerika.

Sanksi yang Berkepanjangan.

Revolusi Islam 1979 mengubah Iran dari sekutu utama Amerika kembali menjadi musuh ideologis. Ketika krisis sandera dimulai pada 4 November 1979, Amerika tidak memiliki sanksi formal terhadap Iran, tetapi Presiden Carter segera mencari cara untuk menekan Tehran. Sepuluh hari kemudian, Carter menandatangani Executive Order 12170, membekukan aset pemerintah Iran senilai sekitar 8 miliar dolar di Amerika.

Ini adalah penggunaan pertama kali dari International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) yang memberi presiden kewenangan luas untuk memberlakukan sanksi ekonomi. Sejak saat itu, sanksi menjadi senjata utama Washington melawan Tehran, sebuah pola yang berlanjut hingga hari ini.

Bentuk intervensi Amerika yang paling memalukan terjadi selama Perang Iran-Irak (1980-1988). Ketika Saddam Hussein menginvasi Iran pada September 1980, Washington melihat peluang untuk melemahkan rezim Islam yang baru berdiri. Amerika memberikan dukungan kepada Irak dalam bentuk miliaran dolar bantuan ekonomi, teknologi dual-use, berbagi intelijen, dan pelatihan operasi khusus.

Setelah Perang Irak-Iran berakhir, Amerika mengubah strategi dari dukungan terhadap musuh Iran menjadi isolasi langsung terhadap Tehran. Pada tahun 1995, Presiden Clinton melarang perusahaan Amerika dari berpartisipasi dalam kesepakatan minyak dengan Iran. Ini diperkuat oleh Iran and Libya Sanctions Act tahun 1996, yang menetapkan sanksi multilateral terhadap Iran sebagai hukum federal.

Era Bush membawa eskalasi baru. Pada tahun 2007, ABC News melaporkan bahwa Presiden Bush telah mengotorisasi operasi rahasia senilai 400 juta dolar untuk menciptakan kerusuhan di Iran. Menurut The Daily Telegraph, CIA juga memberikan dukungan kepada organisasi militan Sunni bernama Jundullah, yang meluncurkan serangan ke Iran dari basis mereka di Pakistan.

Sanksi Amerika terhadap Iran adalah bentuk perang ekonomi yang menghancurkan kehidupan jutaan warga sipil. Sejak 1979, sanksi telah menargetkan sektor energi, perbankan, dan perdagangan Iran.

Menurut estimasi Kementerian Tenaga Kerja dan Layanan Sosial Iran, sanksi internasional telah mendorong sepertiga rakyat Iran ke dalam kemiskinan. Inflasi mencapai 40 persen, pengangguran meningkat, dan daya beli masyarakat anjlok drastis.

Ironi hingga hari ini, Amerika masih memberlakukan sanksi yang menghancurkan ekonomi Iran, kemudian ketika rakyat Iran turun ke jalan memprotes kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh sanksi tersebut, dan Amerika ingin tampil sebagai pendukung hak asasi manusia dan demokrasi.

Perjuangan Iran adalah Perjuangan Kita.

Setelah kesuksesan Operasi Ajax di Iran tahun 1953, Amerika menggulingkan pemerintah demokratis Jacobo Arbenz di Guatemala tahun 1954. Kemudian disusul dengan intervensi di Kongo (1960), Brasil (1964), Chile (1973), Uruguay (1973), Argentina (1976), dan yang terkini 3 Januari 2026, penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro pada “Operasi Absolute Resolve”.

Tujuh dekade intervensi Amerika di Iran mengungkap kebenaran yang tidak nyaman, imperialisme tidak pernah berakhir setelah era kolonial formal. Ia hanya berganti bentuk dari pendudukan militer langsung menjadi kontrol ekonomi, dari administrasi kolonial menjadi rezim boneka, dari kapal perang menjadi sanksi perbankan.

Cuitan Trump di Truth Social tentang “locked and loaded” adalah klimaks dari tujuh dekade agresi yang sistematis dan terkalkulasi. Ini adalah puncak dari sebuah strategi yang dimulai dengan surat CIA berisi uang di Tehran tahun 1953 dan berlanjut hingga malware komputer yang menghancurkan sentrifugal nuklir di Natanz.

Dunia harus memahami bahwa apa yang Amerika lakukan terhadap Iran dapat dan telah dilakukan terhadap negara manapun yang menentang hegemoni Washington. Pola selalu sama: demonisasi, isolasi, destabilisasi dan jika memungkinkan, perubahan rezim.

Bagi Indonesia dan negara-negara non-blok lainnya, perjuangan Iran adalah peringatan keras. Kedaulatan nasional harus dilindungi dengan ketahanan ekonomi, kemandirian strategis, dan kemampuan untuk melawan perang informasi. Karena dalam sistem internasional yang didominasi oleh satu kekuatan adidaya, setiap negara yang menolak subordinasi akan menghadapi harga yang harus dibayar.

Politik luar negeri Indonesia bersandar pada prinsip “Bebas-Aktif” yang dicetuskan Mohammad Hatta melalui pidato “Mendayung di antara Dua Karang” pada tahun 1948. Indonesia tidak terikat pada blok kekuatan manapun dan turut berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Disaat negara besar melakukan invasi terhadap negara berdaulat, Indonesia harus berperan sebagai mediator jujur yang berpijak pada hukum internasional dan piagam PBB. Indonesia tidak memihak demi kepentingan politik praktis, tapi wajib bersikap tegas dan mengutuk pelanggaran integritas wilayah kedaulatan sebuah negara, baik yang dilakukan oleh Amerika, Rusia ataupun Cina.

Indonesia harus memastikan bahwa tatanan dunia tetap berdasarkan oleh kemerdekaan, kebebasan dan keadilan sosial. Bukan atas kekuatan militer semata.

*)Penulis Adalah Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI). Tinggal di Jakarta.

 

Proyek

Proyek Melaka-Dumai Antara Jembatan dan Jebakan

Apakah jembatan Melaka-Dumai yang akan dibangun untuk mendekatkan rakyat, atau justru untuk mendekatkan modal demi keuntungan oligarki ?

Pertanyaan ini penting, sebab rencana proyek jembatan yang direncanakan menghubungkan Melaka di Malaysia dengan Dumai di Sumatra, Indonesia, akan menyentuh jantung Selat Malaka.

Salah satu jalur pelayaran terpenting dunia dan membawa implikasi politik, ekonomi, dan geopolitik yang jauh melampaui jaraknya.

Kegagalan Melaka Gateway dan Ambisi Politik Melaka.

Mengapa sebuah negara bagian kecil di Malaysia yang tenggelam dalam utang federal tiba-tiba bermimpi membangun jembatan sepanjang 47 kilometer melintasi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia ?

November 2020, Melaka mengubur Melaka Gateway, proyek pelabuhan senilai $10,5 miliar yang didukung Cina. Tiga pulau buatan, pelabuhan laut dalam, hotel mewah, bianglala raksasa, semuanya dirancang untuk menantang dominasi maritim Singapura.

Kemudian proyek itu runtuh di bawah pengawasan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang blak-blakan menyatakan: “Kami tidak butuh pelabuhan lagi.” Di balik skeptisismenya ada ketakutan lebih dalam, Malaysia menggadaikan kedaulatannya demi Belt and Road Initiative Cina.

Melaka hari ini terjepit. Di utara ada Kuala Lumpur dan Port Klang. Di selatan ada Johor dan Singapura. Melaka tertinggal. Ia kehilangan peran strategisnya sebagai simpul perdagangan global seperti pada era Kesultanan dahulu. Kini, empat tahun kemudian, Ketua Menteri Melaka Ab Rauf Yusoh menghidupkan kembali ambisi yang sama dengan wajah berbeda. Bukan pulau kali ini, tapi jembatan ke Dumai, Indonesia.

Ab Rauf bukan politisi biasa. Fisikawan yang mendirikan Asia Lab Malaysia Sdn Bhd pada 1985, sebuah laboratorium riset nuklir swasta pertama Malaysia, ia berpindah mulus dari laboratorium ke ruang rapat korporat, Europlus Berhad, konsultan IBM, World Trade Centre KL, sebelum mendarat di mesin politik UMNO. Sebagai Ketua Investasi & Industri, ia mengantarkan investasi semikonduktor Infineon Technologies senilai $3,5 miliar ke Melaka.

Dalam politik Malaysia, proyek raksasa sering menjadi alat legitimasi. Mahathir punya Putrajaya. Najib punya Iskandar Malaysia. Kini Ab Rauf tampaknya ingin dikenang lewat jembatan lintas negara. Ia paham bahwa dalam politik modern, infrastruktur sama dengan warisan.

Tapi proposal jembatannya tak bisa dipisahkan dari kegagalan Melaka Gateway. Proyek itu diinisiasi Perdana Menteri Najib Razak pada 2014, didukung PowerChina dan perusahaan milik negara Cina lainnya. KAJ Development, developer lokal, menjanjikan 45.000 lapangan kerja dan 2,5 juta turis.

Yang mereka berikan adalah kehancuran lingkungan, sedimentasi masif yang mengancam Pemukiman Portugis dan kemarahan publik yang meningkat. Ketika Mahathir kembali berkuasa 2018, ia bertindak cepat. Izin operasi dicabut, lalu dikembalikan setelah pertarungan hukum, kemudian akhirnya dihentikan 2020 karena “gagal menyelesaikan proyek.”

Mahathir melihat apa yang luput dari pandangan publik. Melaka Gateway bukan tentang kepentingan rakyat Malaysia, melainkan jawaban atas “Dilema Malaka” yang menghantui Cina. Ini adalah mimpi buruk strategis Beijing, 80 persen impor minyak mereka harus melewati selat sempit selebar 2,8 kilometer. Jalur ini sangat rentan diblokade oleh Angkatan Laut AS jika konflik Taiwan meletus.

Dengan mendorong investasi dan kontrol Cina melalui Melaka Gateway, Mahathir telah menawarkan kepada Beijing sebuah kedalaman strategis, bagi kepentingan geopolitik Cina. Dalam langkah ini, posisi Malaysia berisiko bergeser dari negara berdaulat menjadi pion dalam papan catur persaingan kekuatan super dunia.

Permainan Sama dengan Papan Baru.

Jembatan Melaka-Dumai yang diusulkan menghidupkan kembali logika geopolitik dengan baju berbeda. Ab Rauf secara eksplisit menyebut “Satu Sabuk, Satu Jalan” terminologi BRI Cina memberi sinyal, ini bukan sekadar infrastruktur bilateral. Dengan estimasi $15-20 miliar untuk biaya projek, dan Melaka sudah menganggarkan RM500.000 untuk studi kelayakan yang akan dilaksanakan pada bulan Januari tahun 2026. Padahal, pembangunan negara bagian ini masih bergantung pada hibah federal bahkan untuk memperbaiki jalan lokal, seperti yang ditunjukkan pemimpin oposisi Yadzil Yaakub. Lalu, siapa yang akan membiayai megaproyek ini ?

Polanya familiar proyek BRI Cina di seluruh Asia mengikuti template. Pertama, konsorsium swasta akan mengusulkan sebuah proyek. Kemudian Pemerintah tuan rumah menandatangani perjanjian. Lalu, Bank Cina bersedia menyediakan pinjaman. Selanjutnya, kontraktor Cina yang akan membangun infrastruktur. Negara tuan rumah hanya mewarisi utang. Dan ketika proyek gagal secara komersial seperti kebanyakan pemerintah menghadapi pilihan default dan kehilangan aset (lihat Pelabuhan Hambantota Sri Lanka), atau membebani pembayar pajak dengan bailout.

Proposal jembatan muncul dari “sektor swasta,” klaim Ab Rauf. Dalam ekonomi politik Malaysia, frasa ini adalah kode. Sektor swasta berarti konglomerat terkait UMNO raksasa konstruksi seperti MMC Corp atau Gamuda yang untung dari konsesi pemerintah. Berarti investor China mencari pijakan di lokasi strategis. Berarti proses tender tidak transparan di mana jaringan elite, bukan kepentingan publik, menentukan hasil.

Ilusi ekonomi dari pihak Melaka menjanjikan transformasi waktu tempuh antara Malaysia-Indonesia menjadi 40 menit, perdagangan meningkat, dibuka 20.000-50.000 lapangan kerja, zona industri 5.000 hektar di Masjid Tanah. Dumai akan menjadi gerbang bagi 60 juta penduduk Sumatra. Melaka akan merebut kembali peran historisnya sebagai pusat perdagangan.

Fundamental perdagangan bilateral Malaysia-Indonesia totalnya hanya $12-15 miliar per tahun, sangat rendah dibanding Malaysia-Cina $212 miliar. Dumai, dengan populasi 300.000, bukan Jakarta atau Surabaya. Kota ini kekurangan basis industri, tenaga kerja terampil, atau infrastruktur logistik untuk membenarkan megajembatan. Kualitas jalan dari Dumai ke Pekanbaru menjadi jalan provinsi terburuk. Perjalanan yang seharusnya dua jam sering memakan waktu lima jam.

Agar proyek jembatan Melaka-Dumai menjadi berhasil secara ekonomi, Indonesia harus memulai lebih dulu melakukan investasi pada konektivitas internal Sumatra. Mulai dari jaringan jalan tol, pelabuhan terpadu, rel kereta api logistik, hingga kawasan industri bernilai tambah. Tanpa fondasi ini, jembatan tersebut hanya akan memindahkan kemacetan dari laut ke darat, bukan menciptakan pertumbuhan yang berkeadilan.

Dalam skenario terburuk, barang manufaktur Malaysia akan membanjiri pasar Riau, sementara industri lokal terdesak sebelum sempat tumbuh. Pada saat yang sama, komoditas mentah Indonesia seperti crude palm oil, karet, dan batu bara akan mengalir ke utara untuk diolah di pabrik-pabrik Malaysia, memperpanjang pola lama ekonomi ekstraktif.

Pembangunan di Riau harus bertumbuh menuju kedaulatan yang berkeadilan. Riau harus bertransformasi menjadi pusat industri regional, bukan terjebak sebagai wilayah penyangga pemasok bahan mentah.(*)

*)Penulis Adalah Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI). Tinggal di Jakarta.

Banjir

Banjir Sumatra Mengungkap Dampak Nyata Kapitalisme Ekstraktif

Ketika 867 jenazah tenggelam karena banjir di Sumatra, mereka bukan hanya korban warga Indonesia.

Ini adalah peringatan bagi Manila, Dhaka, Lagos, dan seluruh dunia Selatan, di mana kapitalisme ekstraktif telah mengubah ekosistem menjadi zona pengorbanan.

Data Kemanusiaan yang Tak Terbantahkan.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 5 Desember, setidaknya 867 orang dipastikan meninggal dunia, 521 orang masih hilang, dan lebih dari 835.000 orang mengungsi, jumlah penduduk yang hampir setara dengan Bhutan.

Kelumpuhan ekonomi ini total, infrastruktur hancur. Lebih dari 405 jembatan putus, 270 fasilitas kesehatan rusak, dan 509 sekolah terendam. Ini bukan statistik, ini pembantaian daya hidup oleh sistem yang menilai kayu, kelapa sawit dan batu bara lebih berharga daripada nyawa.

Aceh menanggung beban terberat, 349 orang meninggal dunia dan 175 orang hilang. Sumatera Utara menyusul dengan 321 orang meninggal dunia dan 134 orang hilang. Sumatera Barat hancur lebur dengan 227 orang meninggal dunia dan 213 orang hilang. Lebih dari 2,2 juta orang di 3.310 desa di Aceh saja terdampak. Ketika air surut, ribuan keluarga mendapati rumah mereka terkubur lumpur dan masa depan mereka hancur.

Fakta-fakta ini adalah puncak nyata dari kegagalan selama puluhan tahun. Hutan yang dulunya menyerap curah hujan kini gundul. Sungai-sungai yang dulu mengalir tenang kini meluap bagai tsunami. Bencana ini lahir dari model ekonomi ekstraktif yang selama dua dekade telah menjual hutan sebagai komoditas.

Pemerintah menyalahkan “Siklon Tropis Senyar” sebagai penyebab utama bencana malam yang berada di luar kendali manusia. Namun, data dan sejarah membantah narasi nyaman itu. Penyebab sebenarnya adalah perusakan sistematis terhadap tutupan hutan, alih fungsi lahan, dan izin-izin korporasi yang diizinkan negara sementara rakyat dipaksa membayar harga atas pertumbuhan ekonomi dan ekspor komoditas.

Banjir besar Desember 2025 di Pulau Sumatra bukan sekadar tragedi hidrometeorologi. Ini adalah bencana ekologis terbesar di Asia Tenggara tahun 2025. Ini adalah “critical juncture” titik belah sejarah yang memaksa dunia menghadapi kegagalan tata kelola lingkungan, ketimpangan struktural, dan kontradiksi geopolitik Indonesia, terlepas dari citranya sebagai penjaga hutan tropis dunia.

Grafik Kehancuran yang Tak Pernah Diam.

Bencana banjir buatan manusia ini dipicu oleh deforestasi massal selama 2 dekade terakhir. Data grafik deforestasi di Sumatra, menunjukkan pola yang konsisten dan tak pernah diam. Setiap tahun ratusan ribu hektare hutan primer dikonversi menjadi konsesi kelapa sawit, pertambangan, dan pulp-kertas.

Pada tahun 2012, Sumatra kehilangan lebih dari 413.200 hektar hutan dalam satu tahun. Kemudian pada tahun 2015, Sumatra kehilangan 335.100 hektar. Itu setara dengan kehilangan 4.700 lapangan sepak bola setiap hari selama setahun penuh. Sejak itu, rata-rata lebih dari 200.000 hektar hilang setiap tahunnya.

Saat ini, 1.907 Izin Usaha Pertambangan (IUP) Minerba yang aktif beroperasi di seluruh Sumatra. Hutan seluas 2,45 juta hektar yang seharusnya berfungsi sebagai spons raksasa penyerap air, kini menjadi lahan tandus milik perusahaan. Global Forest Watch mendokumentasikan bahwa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah kehilangan 7.569 mil persegi hutan sejak tahun 2000, area yang lebih luas dari New Jersey.

Sebagaimana dicatat oleh para ahli lingkungan, tutupan hutan hujan bertindak seperti spons yang menyerap air, tetapi setelah deforestasi, tidak ada yang dapat memperlambat hujan deras saat memasuki aliran air. Jadi, ketika hujan deras datang akhir tahun 2025, air langsung meluncur deras membawa lumpur dan kayu tebangan, menghantam rumah-rumah rakyat miskin di hilir.

Perusahaan-perusahaan besar dan konglomerat agribisnis merupakan pelaku utama pemegang izin selama periode puncak deforestasi di Sumatra. Mereka harus bertanggung jawab atas konversi lahan yang memperburuk banjir. Ini bukan hanya akibat hujan melainkan akibat kapitalisme ekstraktif yang mengorbankan ekosistem demi keuntungan oligarki.

Arena Perebutan Pengaruh Global.

Ekspansi kelapa sawit telah menjadi pendorong utama deforestasi selama 20 tahun terakhir. Sumatra mengalami peningkatan 3,7 kali lipat dalam deforestasi yang didorong oleh industri kelapa sawit pada tahun 2022 dibandingkan dengan tahun 2020.

Sektor kelapa sawit di Indonesia mewakili 4,5% dari PDB dan mempekerjakan lebih dari 16,2 juta orang secara langsung dan tidak langsung. Negara ini merupakan eksportir minyak sawit terbesar di dunia, menyumbang 54% dari ekspor global.

Cina baru-baru ini melampaui Uni Eropa dan India untuk menjadi importir minyak sawit terbesar Indonesia, meningkatkan pangsa pasarnya dari 11% pada tahun 2013 menjadi 14% pada tahun 2022. Cina dan India bersama-sama menyumbang 75% dari seluruh paparan deforestasi minyak sawit Indonesia.

Konsumsi domestik Indonesia juga meningkat dari 32% produksi pada tahun 2018 menjadi 44% pada tahun 2022, dengan lebih dari separuhnya digunakan untuk biodiesel. Eropa menuntut Indonesia melindungi “paru-paru dunia“nya sementara bank-bank Eropa membiayai deforestasi yang justru menjadi penyebab bencana-bencana ini. Ini adalah kolonialisme iklim yang dibalut retorika hijau.

Negara-negara utara menginginkan Indonesia melestarikan hutan untuk kredit karbon sambil terus mengimpor minyak sawit, kayu, dan mineral yang diekstraksi melalui perusakan hutan. Indonesia diperintahkan untuk mengorbankan pembangunan ekonomi demi tujuan iklim global, namun tidak diberikan dukungan untuk beralih dari industri kapitalisme ekstraktif.

Tanggapan internasional datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Kesehatan Dunia, Amnesty International, Iran, Pakistan, Uni Emirat Arab, dan banyak negara lain yang menawarkan bantuan. Namun penerimaan Pemerintah Indonesia melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi tidak lebih dari hangat.

Penolakan Indonesia untuk menyatakan keadaan darurat nasional hanya masuk akal jika dilihat melalui kacamata ekonomi politik. Pasti pernyataan keadaan darurat nasional akan memicu pengawasan internasional terhadap industri-industri yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dari perspektif saya sebagai seorang sosialis demokrat, bencana ini menyingkap kontradiksi mendasar dari model pembangunan Indonesia. Kita tidak dapat lagi membangun kapitalisasi dengan melikuidasi fondasi ekologis kita.

Kita tidak dapat menanam kembali hutan selama izin penebangan masih berlaku. Kita tidak dapat memulihkan daerah aliran sungai sementara konsesi pertambangan meluas ke hulu. Kita membutuhkan transformasi struktural, penegakan keadilan ekologis dan seruan aliansi solidaritas internasional.(*)

*)Penulis Adalah Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI). Tinggal di Jakarta.

Gibran

Gerakan Gibran di G20 untuk Membuka Kekuatan Afrika-Indonesia

Apa yang terjadi ketika kekuatan-kekuatan baru dunia berhenti menunggu izin ?

Ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tiba di Johannesburg untuk menghadiri KTT G20, ia tidak sekadar menghadiri pertemuan diplomatik biasa. Di usia 37 tahun, ia menjadi pemimpin termuda di meja yang secara tradisional didominasi oleh para veteran kapitalisme Barat yang telah beruban.

Namun, usia bukanlah satu-satunya hal yang membedakan momen ini. Untuk pertama kalinya, G20 bersidang di Afrika. Benua yang selama ini dianggap sebagai penerima alih-alih perancang kebijakan ekonomi global.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah strategi.

Momen Johannesburg dan Keinginan Indonesia.

G20 selalu menjadi barometer kekuatan global. Terlahir dari krisis keuangan 2008, G20 berjanji untuk memberikan kesempatan bagi negara-negara ekonomi berkembang untuk berunding. Namun selama bertahun-tahun, janji itu tetap hampa. Keputusan masih mengalir dari Washington, Brussels, dan Beijing. Negara-negara Selatan menyaksikan, berpartisipasi, tetapi jarang memimpin.

Johannesburg mengubah perhitungan itu. Afrika Selatan, tuan rumah KTT, mengirimkan pesan yang jelas: suara Afrika penting. Peran penting Indonesia semakin memperkuatnya. Ketika Gibran turun dari pesawat, didampingi Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, ia tidak hadir untuk mengamati. Ia hadir untuk bernegosiasi.

Simbolisme ini memang disengaja. Indonesia baru saja menjadi tuan rumah G20 di Bali tiga tahun sebelumnya. Kini, ketika Afrika Selatan mengambil alih kendali, Jakarta memposisikan dirinya sebagai jembatan antara kekuatan manufaktur Asia dan potensi Afrika yang belum tergali. Ini bukanlah diplomasi amal. Ini adalah pragmatisme ekonomi yang dibungkus dengan retorika solidaritas.

Indonesia membutuhkan pasar. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan ekonomi yang haus ekspansi, Jakarta tidak bisa hanya bergantung pada mitra tradisional. Diplomasi jebakan utang Tiongkok telah membuat banyak negara berkembang ketakutan. Pasar Barat tetap dilindungi oleh tarif dan regulasi. Afrika menawarkan sesuatu yang berbeda: sebuah perbatasan.

Afrika Selatan berfungsi sebagai pintu gerbang Indonesia. Ekspor Indonesia ke Afrika melonjak 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya antara tahun 2024 dan 2025, menurut statistik nasional. Investasi mencapai $500 juta pada tahun 2025, menurut data Kamar Dagang. Perjanjian bebas visa yang diumumkan Gibran yang dinegosiasikan saat kunjungan Presiden Ramaphosa ke Jakarta pada bulan Oktober menghilangkan hambatan krusial bagi pergerakan pebisnis dan wisatawan.

Indonesia juga menghadirkan kapasitas industri, sumber daya manusia, dan jaringan manufaktur yang sangat dibutuhkan Afrika. Lebih penting lagi, Indonesia menawarkan akses ke pasar ASEAN dengan ekonomi gabungan senilai $3,6 triliun. Bagi bisnis Afrika Selatan yang mengincar ekspansi ke Asia, Indonesia menjadi sangat penting.

Strategi Tiga Pilar Diplomat Muda.

KTT Johannesburg berfokus pada tiga bidang utama: ekonomi berkelanjutan, pembangunan dunia yang tangguh, dan tata kelola kecerdasan buatan. Setiap pilar menunjukkan bagaimana Indonesia memposisikan dirinya melampaui dinamika kekuatan tradisional.

Pertama, ekonomi berkelanjutan. KTT ini membahas krisis utang yang melanda negara-negara berkembang. Hal ini sangat penting bagi Indonesia, yang mengingat perjuangannya sendiri selama Krisis Keuangan Asia 1997. Dengan mengadvokasi mekanisme restrukturisasi utang yang adil, Jakarta membangun kredibilitas sebagai pejuang kepentingan negara-negara berkembang. Indonesia juga melindungi dirinya sendiri jika negara-negara Afrika kolaps karena utang, investasi Indonesia akan hilang.

Kedua, pembangunan dunia yang tangguh. Perubahan iklim dan transisi energi mendominasi agenda ini. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia kritis untuk baterai kendaraan listrik. Afrika Selatan memiliki potensi platinum dan energi terbarukan. Bersama-sama, keduanya dapat membentuk transisi energi yang adil yang tidak mengulangi pola ekstraksi kolonial.

Ketiga, tata kelola AI. Ini merupakan medan pertempuran masa depan. Seiring kecerdasan buatan membentuk kembali pasar tenaga kerja, negara-negara berkembang berisiko menjadi koloni data bagi raksasa teknologi di Silicon Valley dan Shenzhen. Dengan meningkatkan etika AI dan standar kerja layak di G20, Indonesia dan Afrika Selatan mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan menerima masa depan teknologi yang terbagi dua. Mereka ingin menetapkan aturan, bukan sekadar mengikutinya.

Usia Gibran lebih penting daripada yang ditunjukkan oleh protokol diplomatik. Di seluruh belahan Bumi Selatan, populasi muda mendominasi demografi. Di Indonesia, 70 persen warga negara berusia di bawah 40 tahun. Di Afrika Selatan, usia rata-rata adalah 28 tahun. Populasi ini tidak mengalami pertempuran ideologis Perang Dingin. Mereka tumbuh dengan ponsel pintar, kecemasan iklim, dan skeptisisme yang mendalam terhadap lembaga yang mengecewakan orang tua mereka.

Diplomasi tradisional bergerak lambat, berbicara hati-hati, berubah dengan enggan. Gibran mewakili sesuatu yang berbeda bukan karena ia radikal, tetapi karena ia tidak sabar. Pidatonya di Forum CEO Indonesia-Afrika menekankan hasil konkret: angka investasi, koridor perdagangan, transfer teknologi.

Pergeseran generasi dalam gaya kepemimpinan ini dapat mempercepat kerja sama Selatan-Selatan. Diplomat yang lebih tua sering terjebak dalam prosedur dan preseden. Pragmatisme ini, jika dipertahankan, mungkin pada akhirnya akan mewujudkan retorika Selatan-Selatan selama puluhan tahun.

Prediksi Yang Patut Diperhatikan.

Indonesia mengusulkan sesuatu yang berbeda: kemitraan dagang, alih-alih hubungan kreditor. Hal ini sangat penting bagi negara-negara Afrika yang menyaksikan penyitaan pelabuhan Sri Lanka atau kesulitan utang Zambia. Model Jakarta menekankan koneksi bisnis ke bisnis, kolaborasi manufaktur, dan akses pasar, alih-alih pinjaman skala besar.

Koridor perdagangan Indonesia-Afrika diperkirakan akan berkembang pesat. Dengan dihapuskannya hambatan visa dan dibentuknya dewan bisnis, perdagangan bilateral dapat berlipat ganda dalam tiga tahun. Sektor pertanian dan energi akan menjadi pendorong utama. Indonesia membutuhkan ketahanan pangan, Afrika membutuhkan teknologi pengolahan.

Sebagai seorang sosialis, saya percaya solidaritas di antara negara-negara berkembang sangat penting. Namun solidaritas harus mencakup hak-hak buruh, perlindungan lingkungan, dan partisipasi demokratis. Jika tidak, kita hanya akan menggantikan eksploitasi Utara dengan elit Selatan yang mengeksploitasi rakyatnya sendiri.

Ketika Gibran kembali ke Jakarta, ia akan membawa lebih dari sekadar kemenangan diplomatik. Ia akan membawa cetak biru tentang bagaimana kekuatan menengah dapat menavigasi dunia multipolar. Indonesia tidak berusaha menjadi negara adidaya berikutnya. Indonesia sedang membangun jaringan kepentingan bersama yang secara kolektif menantang hierarki tradisional.

Untuk saat ini, suara termuda di meja G20 telah berbicara. Apakah dunia akan mendengarkan penentuan momen penting ini?.

*)Penulis adalah Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI). Tinggal di Jakarta.

Heraklitus Efridus, Presidium Gerakan Kemasyarakatan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cab. Ruteng.

Keadilan yang Bisa Dibeli: Jebakan Perdamaian dalam Kasus Penganiayaan oleh Aparat

Menolak Banalitas Kejahatan dalam Proses Hukum

“Dimana-mana aku selalu dengar yang benar akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan?”

Kata-kata Pramoedya Ananta Toer ini seolah menggema di tengah sunyi dan tumpulnya nurani hukum di negeri ini. Kebenaran, kata Pram, tidak turun dari langit. Ia mesti diperjuangkan. Dan di sinilah letak persoalan kita: ketika hukum tidak lagi diperjuangkan, melainkan diperdagangkan; ketika keadilan tidak ditegakkan, tetapi dinegosiasikan; dan ketika “perdamaian” dijadikan alasan untuk menutupi kekerasan yang dilakukan oleh aparat negara sendiri.

Kasus penganiayaan terhadap KAS (23), warga Kelurahan Pitak, Manggarai, adalah potret kecil dari wajah hukum yang sedang kehilangan keberanian. Setelah sempat ramai diberitakan, kini kasus ini tenggelam dalam diam. Tidak banyak media yang memberitakan, tidak ada kejelasan dari institusi penegak hukum, dan tidak ada kepastian bagi korban. Di tengah ketiadaan informasi, beredar kabar bahwa kasus ini sedang “diupayakan damai” secara kekeluargaan. Kabar ini, jika benar, bukanlah kabar baik. Ia justru menjadi sinyal bahaya bagi tegaknya hukum dan moral publik di negeri ini.

Perdamaian, dalam konteks sosial Indonesia, sering dianggap jalan tengah yang bijaksana. Ia diidentikkan dengan keikhlasan, harmoni, dan penyelesaian tanpa permusuhan. Namun dalam kasus pidana yang menyangkut penganiayaan oleh aparat penegak hukum, perdamaian justru adalah bentuk pengkhianatan terhadap keadilan. Ia menyalahi prinsip hukum, memperlemah korban, dan menodai makna tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.

Dalam Pasal 351 KUHP, penganiayaan merupakan tindak pidana yang dapat dikenai hukuman penjara hingga dua tahun delapan bulan, bahkan lebih berat jika menyebabkan luka serius atau kematian. Ketika pelaku adalah aparat kepolisian, maka perbuatan itu tidak sekadar pelanggaran pidana biasa, melainkan penyalahgunaan wewenang negara. Seorang polisi, berdasarkan Kode Etik Profesi Polri (Peraturan Kapolri Nomor 7 Tahun 2022), wajib menjunjung tinggi kehormatan dan martabat manusia, serta melindungi setiap warga dari kekerasan. Maka ketika pelaku justru aparat, penganiayaan itu bukan hanya kejahatan terhadap individu, tetapi juga terhadap martabat institusi dan kepercayaan publik terhadap negara hukum.

Ironisnya, dalam praktik, banyak kasus serupa yang akhirnya “selesai” dengan jalan damai. Alasannya klasik: demi menjaga hubungan baik, demi ketenangan, demi menghindari aib, atau demi belas kasihan terhadap pelaku.

Namun alasan-alasan moral seperti ini sering kali digunakan untuk menutupi kejahatan struktural. Dalam konteks aparat, “damai” bisa menjadi cara sistemik untuk menghindari akuntabilitas. Ia bukan lagi ruang dialog sosial, melainkan alat pembebasan hukum bagi pelaku yang memiliki kekuasaan.

Dalam tataran hukum positif, upaya perdamaian semacam ini tidak memiliki dasar. Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif menegaskan bahwa konsep restorative justice tidak berlaku untuk tindak pidana berat, tidak berlaku jika dilakukan oleh aparat penegak hukum, dan tidak berlaku jika menimbulkan korban luka berat. Kasus penganiayaan oleh anggota Polri jelas memenuhi semua kriteria itu: berat, dilakukan oleh aparat, dan menimbulkan korban luka. Dengan demikian, segala bentuk penyelesaian “kekeluargaan” tidak hanya melanggar etika hukum, tetapi juga bertentangan dengan regulasi internal Polri sendiri.

Bahkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) melalui Pasal 82 ayat (1) menegaskan bahwa penghentian penuntutan hanya dapat dilakukan oleh jaksa dalam kondisi hukum yang sah, bukan karena kesepakatan damai di luar proses peradilan. Artinya, jika penyidik atau aparat memfasilitasi perdamaian demi menghentikan perkara, maka tindakan itu bisa dikategorikan sebagai penyalahgunaan kewenangan dan pelanggaran serius terhadap prinsip due process of law.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Dalam konteks sosial kita yang hierarkis, keluarga korban sering kali berada dalam posisi lemah. Mereka ditekan, dibujuk, bahkan diintimidasi agar “mengikhlaskan” demi ketenangan bersama. Uang ganti rugi, atau istilahnya “uang damai”, menjadi alat paling ampuh untuk menutup mulut korban dan mengubur kebenaran. Akibatnya, luka batin korban tidak pernah benar-benar sembuh. Mereka menanggung trauma tanpa pemulihan, sementara pelaku melenggang bebas dengan seragam dan pangkat yang sama.

Dari perspektif hak asasi manusia, praktik ini adalah bentuk pelanggaran terhadap hak untuk mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum yang setara, sebagaimana dijamin dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Lebih jauh, tindakan kekerasan oleh aparat merupakan bentuk perlakuan kejam dan tidak manusiawi yang dilarang keras dalam UU Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Anti Penyiksaan (CAT). Negara tidak hanya berkewajiban menghukum pelaku, tetapi juga memastikan bahwa tidak ada kompromi yang melemahkan prinsip pertanggungjawaban.

Apabila “perdamaian” dalam kasus seperti ini dibiarkan, maka dampaknya sistemik. Pertama, publik akan kehilangan kepercayaan terhadap institusi Polri. Masyarakat tidak lagi melihat polisi sebagai pelindung, tetapi sebagai ancaman. Seragam polisi bukan lagi simbol keamanan, melainkan simbol kekuasaan yang bisa menindas dan tak tersentuh hukum. Kedua, praktik ini menciptakan preseden impunitas, sebuah kultur kebal hukum yang menular ke seluruh tubuh institusi. Jika satu kasus dibiarkan, maka kasus lain akan menyusul, dan perlahan-lahan hukum menjadi sekadar formalitas tanpa moralitas.

Ketiga, perdamaian semacam ini juga menghancurkan agenda besar reformasi Polri. Sejak reformasi 1998, Polri berjanji untuk menjadi institusi yang profesional dan humanis, lepas dari bayang-bayang militeristik masa lalu. Namun reformasi tidak akan pernah berhasil jika kekerasan masih dianggap hal biasa dan diselesaikan di ruang gelap melalui “uang damai”. Reformasi bukan soal mengganti seragam atau jargon, tetapi soal membangun etika baru yang menempatkan rakyat sebagai subjek hukum, bukan objek kekuasaan.

Keempat, praktik perdamaian juga berbahaya bagi sistem keadilan itu sendiri. Ia menumbuhkan banalitas kejahatan, yakni kondisi ketika kejahatan tidak lagi dianggap luar biasa, tetapi menjadi sesuatu yang biasa. Konsep “banalitas kejahatan” ini pernah dikemukakan oleh Hannah Arendt ketika ia menulis tentang kejahatan Nazi.

Menurut Arendt, kejahatan menjadi banal ketika pelaku tidak lagi merasa bersalah, karena sistem membuatnya tampak normal. Dalam konteks kita, perdamaian yang menutupi kekerasan aparat justru menjadikan kejahatan itu tampak sah dan lumrah.

Akhirnya, kita perlu bertanya: sampai kapan keadilan di negeri ini bisa dibeli dengan sejumlah uang? Sampai kapan korban harus diam karena takut pada seragam? Dan sampai kapan kita membiarkan hukum dikendalikan oleh rasa sungkan dan kompromi moral?

Menolak perdamaian dalam kasus penganiayaan bukan berarti menolak nilai kekeluargaan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk tertinggi dari tanggung jawab sosial, karena hanya dengan menegakkan hukum secara tegas, kita bisa menyelamatkan masa depan institusi kepolisian dan menjaga martabat kemanusiaan.

Keluarga korban harus didukung oleh masyarakat, oleh organisasi sipil, dan oleh media untuk menolak segala bentuk perdamaian yang mencederai keadilan. Divisi Propam Polri mesti bertindak transparan, independen, dan menolak intervensi apa pun dalam proses hukum. Sementara publik perlu terus mengawasi, menulis, bersuara, dan memastikan bahwa kasus ini tidak menghilang dalam senyap.

Keadilan bukan hadiah yang datang dari langit, ia hasil dari perjuangan. Kita memang memilih jalan yang lebih berat, tetapi itulah satu-satunya jalan yang benar. Jika kita membiarkan perdamaian menutup luka, maka kita sedang membangun masa depan di atas kebohongan. Namun jika kita menolak perdamaian yang palsu, maka kita sedang memperjuangkan kebenaran yang hakiki: bahwa tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi dari hukum, dan tidak ada perdamaian yang lebih suci daripada keadilan itu sendiri.(*)

Opini ini ditulis oleh Heraklitus Efridus (Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Ruteng) 

Gaza

KTT Sharm El-Sheikh, Perdamaian untuk Pipa Gas

Sementara ribuan keluarga di Gaza masih tidur di reruntuhan, para pemimpin dunia berkumpul di Sharm El-Sheikh, resort mewah di pesisir Laut Merah dengan hotel bintang lima dan lapangan golf yang hijau di tengah gurun.

Apakah benar tokoh-tokoh ini begitu peduli pada Gaza yang sudah puluhan tahun diabaikan?

Ilusi Perdamaian dan Tata Kekuasaan Baru.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian pada 13 Oktober 2025 ini menghadirkan deretan nama besar: Donald Trump, Emmanuel Macron, Muhammad bin Salman, Recep Tayyip Erdogan, Tamim bin Hamad al-Tsani, Raja Abdullah II hingga Antonio Guterres.

Ini adalah upaya sistematis untuk menormalkan kembali hubungan Israel dengan negara-negara Arab di bawah payung kepentingan ekonomi bersama, mengabaikan akar persoalan utama: keadilan bagi rakyat Palestina. Perdamaian yang ditawarkan adalah perdamaian yang telah dibeli, di mana rakyat Palestina hanya menjadi komoditas sampingan dalam negosiasi energi.

Para elit global ini sejatinya sedang mengukir ulang tatanan kekuasaan di Timur Tengah pasca berbagai perang proksi dan pergeseran aliansi. Mereka merancang suatu sistem di mana mereka dapat mengontrol harga energi, mengamankan jalur dagang dan meminggirkan pemain-pemain yang tidak kooperatif.

Inilah agenda besar tersembunyi di balik senyum-senyum diplomatik. Ini tentang jalur pipa gas dari Qatar ke Eropa yang harus melewati Gaza. Ini tentang Terusan Suez yang harus tetap aman untuk kepentingan energi global. Ini tentang restrukturisasi kapitalisme energi pasca Perang Ukraina.

Maka Gaza bukan lagi sekadar isu perdamaian atas nama kemanusiaan, melainkan titik penguncian vital dalam tata kekuasaan baru. KTT Sharm El-Sheikh bukanlah momen perdamaian sejati, melainkan babak baru restrukturisasi geoekonomi Mediterania Timur.

Mesir, Suez dan Gerbang yang Terlupakan.

Ada alasan kuat mengapa KTT diadakan di Mesir, bukan di Jenewa atau New York. Mesir adalah kunci utama dalam permainan energi kali ini.

Pertama, Terusan Suez. Pendapatan Mesir dari Suez anjlok dari $10,25 miliar pada 2023 menjadi hanya $3,99 miliar pada 2024. Penurunan drastis 61%. Konflik regional membuat kapal-kapal memilih rute lebih aman meski lebih mahal.

Faktor utamanya adalah konflik regional dan tekanan keamanan di Selat Merah. Kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melewati jalur tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina, membuat lalu lintas kapal terganggu, banyak kapal memilih rute memutar lewat Tanjung Harapan Afrika. Presiden Mesir sendiri menyebut bahwa gangguan regional memicu kerugian sekitar US$ 7 miliar dari pendapatan Suez tahun 2024.

Mesir butuh stabilitas kawasan agar Suez kembali ramai. Mesir juga butuh investasi infrastruktur liquefaction untuk menjadi hub gas alam regional. Mesir punya lokasi strategis untuk menghubungkan Afrika, Timur Tengah dan Eropa.

Kedua, Mesir adalah negara Arab terbesar yang punya hubungan damai dengan Israel sejak 1979. Mesir bisa menjadi mediator “netral” yang melegitimasi proyek pipa gas ini di mata dunia Arab.

KTT Sharm El-Sheikh adalah ajang bargaining. Amerika dan sekutunya menawarkan investasi energi kepada Mesir dengan syarat mendukung proyek pipa gas Qatar-Eropa dan bantu Gaza.

Eropa Kedinginan, Qatar Tersenyum.

Sejak Rusia menginvasi Ukraina, Eropa kehilangan 40% pasokan gas Rusia (melalui Nord Stream dan jaringan pipa) sebagai akibat sanksi dan pemangkasan kontrak. Harga LNG melonjak 300% antara 2021-2022. Negara-negara Eropa panik mencari pengganti Gazprom.

Qatar menguasai hampir 35% pangsa pasar LNG global. Saat ini Qatar tengah menjalankan ekspansi besar-besaran kapasitas LNG dari 77 juta ton per tahun menjadi 142 juta ton per tahun pada 2030 (naik 85%).

Qatar berupaya mengunci pangsa pasar Eropa, terutama karena mereka fleksibel dalam ekspor LNG spot dan kontrak jangka pendek. Di sinilah Qatar muncul sebagai penyelamat. Eropa membutuhkan gas. Qatar punya gas. Tapi ada satu masalah, bagaimana mengirimnya dengan efisien dan murah ?

Jawabannya adalah pipa gas. Bukan LNG yang harus didinginkan, dimuat ke kapal tanker, lalu dicairkan lagi. Pipa langsung dari Qatar ke Eropa akan menghemat biaya dan memastikan pasokan stabil.

Masalahnya, jalur pipa itu harus melewati wilayah yang sangat sensitif: Gaza, Palestina. Rutenya adalah dari Qatar ke Arab Saudi, ke Yordania, ke Gaza, ke Mediterania, ke Yunani, ke Italia, dan kemudian menyebar ke negara-negara Eropa.

Negara Eropa yang paling membutuhkan gas Qatar adalah Jerman, Italia, Prancis dan Yunani. Mereka yang paling terdampak hilangnya pasokan Rusia. Mereka yang paling agresif mendukung “perdamaian” Gaza.

Tapi untuk membangun pipa itu, Gaza harus “stabil“. Palestina harus bisa dikontrol. Mesir harus kooperatif. Israel harus merasa aman.

Perdamaian Tanpa Keadilan.

Kehadiran Guterres hanya sebagai “stempel legitimasi” tanpa kekuatan riil. Dan absennya Vladimir Putin (Rusia) dan Xi Jinping (China) dalam konferensi perdamaian tersebut telah menunjukkan memang sedang terjadi perpecahan tatanan dunia.

Elite global tidak akan pernah memberikan perdamaian sejati secara sukarela. Perdamaian mereka adalah perdamaian yang melindungi privilese, yang menstabilkan akumulasi kapital, yang menormalisasi ketidakadilan struktural.

Perdamaian di Gaza membutuhkan dekolonisasi (pengembalian tanah dan sumber daya), redistribusi (kekayaan dari oligarki ke pekerja), demokratisasi (keputusan dibuat rakyat, bukan elite) dan reparasi (pertanggungjawaban historis untuk kolonialisme). Tapi tidak ada satu pun yang dibahas di Sharm El-Sheikh.

Mari kembali ke pertanyaan awal. Mengapa perdamaian Gaza tiba-tiba jadi prioritas? Karena Gaza menghalangi proyek energi triliunan dolar.

Perdamaian tanpa keadilan adalah penindasan yang dilegitimasi. Sharm El-Sheikh bukan akhir sejarah. Ini adalah pertarungan yang berlanjut antara kapitalisme ekstraktif dan sosialisme ekologis.

Dalam 5 tahun, kita akan melihat pipa gas kembali mengalir untuk Eropa, Gaza menjadi “damai” tapi tetap terjajah dan dunia merayakan normalisasi sambil melupakan bahwa perdamaian ini dibeli dengan gas alam triliunan dolar.(*)

*)Penulis Ketua Angkatan Muda Sosisalis Indonesia (AMSI). Tinggal di Jakarta.

Mafia Berkeley

Negara Bukan-bukan: dari Koboi AS hingga Mafia Berkeley

Satire Gus Dur dan Negara Bukan-bukan

Saya selalu teringat sarkasme Gus Dur tentang negara “bukan-bukan.” Baginya, Indonesia ambigu: bukan sekuler penuh, bukan teokratis; bukan sosialis, bukan kapitalis murni; bukan demokrasi Barat, bukan otoriter Timur. “Bayangkanlah, saudara-saudara,” katanya sambil tertawa, “hukum berjalan tapi berhenti di istana, birokrasi absurd seperti urus KTP butuh 10 cap, korupsi lancar jaya. Ekonomi zig-zag: hari ini liberal, besok proteksionis. Rakyat? Diminta percaya absurditas ini normal. Indonesia adalah negara ‘bukan-bukan’ ketidakjelasan jadi aturan, tapi di situlah keunikan kita, asalkan kita sadar.”

Teringat sarkasme itu, saya tersenyum pahit membaca beberapa pernyataan Menteri Keuangan baru. Gaya koboinya yang bebas, improvisatif, kadang melawan logika mirip presiden AS: Theodore Roosevelt, ‘cowboy president’ yang pecah kartel tapi ekspansi imperialis; Donald Trump yang flamboyan dengan perang tarif; Ronald Reagan karismatik ala Hollywood, tapi Reaganomics picu defisit raksasa. Hasilnya? Kadang decak kagum, kadang kebingungan, konsekuensi panjang.

Emas, Bank, dan Logika Sederhana

Logika sederhana pun bisa menangkap masalah ini. Punya emas di bank dapat bunga, tapi kalau bank bangkrut? Hilang. Strategi rakyat: simpan emas di kaleng rumah. Rupiah jatuh, emas naik, setidaknya ada pegangan di tengah ketidakpastian.

Indonesia kaya sumber daya alam, tapi narasi “antek neokolim” sejak 1966 membuat negeri ini terlihat lemah. Padahal, pemimpin AS seperti Roosevelt, Trump, dan Reagan memang bergaya koboi: bebas, suka ambil risiko, menantang diplomasi. Bukan Soekarno yang membuat mereka ciut nyali, tapi mereka yang mengincar kendali Indonesia.

SDA dan “Raja-raja Kecil” di Indonesia

Indonesia kaya SDA, di mana tiap daerah memiliki kekayaan luar biasa. Dari tambang hingga hasil bumi, hampir setiap provinsi punya “harta tersembunyi” sendiri. Namun, distribusi kekayaan rumit. Otonomi daerah membuat kekuasaan terpecah: dulu semua terpusat di satu raja Soeharto. Sekarang? Kekayaan dan kekuasaan tersebar ke “raja-raja kecil” di tiap wilayah.

Julia Suryakusuma menyoroti fenomena ini: otonomi memberi peluang elite lokal jadi penguasa mini. SDA tidak hanya soal nasional, tapi soal lokal. Raja kecil ini kadang lebih berpengaruh daripada kebijakan pusat. Ironisnya, meski kaya, kesejahteraan tidak otomatis mengikuti; kekayaan memperkuat elite lokal dan memperlebar kesenjangan.

Indonesia For Sale dan Mafia Berkeley

Soekarno tumbang, modal asing masuk via Paris Club 1966, dan “Indonesia for Sale” resmi dimulai. Tanpa Mafia Berkeley ekonom lulusan UC Berkeley ini tidak terjadi. Desain mereka: utang asing pacu pembangunan, SDA jadi jaminan, keuntungan mengalir keluar. Pepatah lama: jangan berutang, jerat seumur hidup. Terbukti: kita menutup lubang utang dengan lubang utang baru, bayar bunga dan cicilan, sementara SDA tetap jadi jaminan.

Ketimpangan Ekonomi yang Menakjubkan

Kesenjangan semakin nyata. Tahun 2025, empat orang terkaya memiliki kekayaan sekitar Rp 1.700 triliun, setara dengan 100 juta rakyat bawah. Infrastruktur megah dibangun, tapi rakyat tetap menanggung utang ala Berkeley. Fakta: pajak rakyat membayar utang luar negeri, sementara kebijakan ekonomi zig-zag ala koboi membuat rakyat kehilangan arah.

Mafia Berkeley merancang strategi: “utang untuk pembangunan, pinjam SDA untuk modal asing.” Canggih: jalan, pelabuhan, bandara naik. Tapi efek sampingnya: proyek jadi pinjaman berbunga, aset negara, hutan, tambang, minyak menjadi jaminan. Bukan kemandirian, tapi ketergantungan pada modal asing; keputusan dibuat jauh dari Jakarta, oleh tangan yang tidak pernah merasakan panas terik matahari di sawah atau berayun di perahu nelayan menahan gelombang laut.

Beban Moral dan Refleksi Pribadi

Efek jangka panjang: buruh, petani, nelayan, guru, dokter bayar harga, elit kaya menikmati ketimpangan. Kebijakan zig-zag bikin rakyat bingung: harga stabil kapan? gaji cukup? pendidikan dan kesehatan terjangkau kapan?

Bayangkan perasaan desainer kebijakan ini, alumni Berkeley. Puas atau miris? Saya ingin bertanya, salah satu Mafia Berkeley adalah teman tante saya, Helda Yahya. Apa yang mereka “Mafia Barkeley” rasakan melihat Indonesia hari ini: gembira atau pilu? Beban moral melihat bangsa sendiri terseret utang dan ketimpangan adalah hukuman tidak kasat mata: mata rabun, tulang rapuh, jiwa lelah, tapi umur panjang memberi kesempatan menyaksikan hasil kerja sendiri. Tidak ada ampun sejarah; setiap kebijakan membawa tanggung jawab, anak cucu mewarisi konsekuensi.

Kesadaran Rakyat sebagai Aset Paling Berharga

Sarkasme Gus Dur tetap relevan: negara absurd, rakyat belajar adaptasi urus administrasi rumit, berjuang dalam ketidakadilan harian, tersenyum saat “kebijakan luar biasa” justru bikin rumit. Negara kuat di atas kertas, lemah praktik. Indonesia hari ini utang, ketimpangan, kebijakan zig-zag ala koboi bukti hidup dari satire itu.

Sebagai urang Minang dari keluarga Jahja Datoek Kajo Koto Gadang, Agam, kami tetap setia perjuangan rakyat. Kami memahami kesatuan, moral, dan pengorbanan. Sejarah mengingatkan: penjajahan bisa datang dalam banyak bentuk tidak hanya senjata, tapi juga utang, perjanjian ekonomi, dan kebijakan yang memperkaya segelintir orang.

Kesadaran rakyat adalah aset utama. Emas bisa simlan di kaleng, rupiah bisa jatuh tapi kesadaran tidak ternilai. Selama ada kesadaran itu, Indonesia bisa lepas dari jebakan utang, ketimpangan, dan desain koboi Berkeley-Texas.

Kesimpulan: Negara yang Bukan-bukan Tapi Masih Bisa Bangkit

Peluang ada: kebijakan pro-rakyat, bukan barter SDA. Jangan biarkan “negara bukan-bukan” jadi normal absurd bisa lazim, korupsi jadi sistem, zig-zag jadi tradisi. Rakyat harus tetap kritis, awasi, dan pertanyakan setiap kebijakan. Dengan kesadaran kolektif, Indonesia bukan-bukan lagi, tapi negara yang berpihak pada rakyat.

Emas di kaleng, rupiah jatuh, kesadaran rakyat tak ternilai. Selama rakyat sadar hak, kekayaan, dan tanggung jawabnya, Indonesia bisa bangkit dari utang, kapitalisme ekstrim, dan pengaruh Mafia Berkeley. Negeri ini masih bisa menjadi tanah yang layak bagi 280 juta jiwa, bukan sekadar “Indonesia for Sale.”(*)